[verse 1]
Pernahkah kau alami kehilangan ia yang kau kasihi
Mungkin engkau bisa berlari, tapi kau tak bisa sembunyi dari kenyataan yang ada
[verse 2]
Dalam rindu yang menggebu kau menyadari tiada gunanya lagi
Yang berlalu oh biarlah berlalu, ditelan waktu
[chorus 1]
Kau berbohong!
Kenyataan lainpun bicara; terluka tubuhmu, akalmu, rasamu
Ada yang hilang, jiwamu berlubang o o o o o
Kini kaupun tak akan pernah seperti dulu lagi
Tiga bait lirik lagu O Seutuhnya memerikan bahwa rasa adalah salah satu substansi manusia. Perasaan sama usianya dengan keturunan manusia, dan dari ini tumbuhlah segala bangsa manusia.
Rasa, perasaan; kagum, kesengsem, malu, gelisah, cinta, cemburu, gusar, muak, benci, rindu, nikmat, senang, nyaman, putus asa!
Itulah bahan-bahan pokok untuk meracik manusia, yang kini tampak seringkali menampakkan pengaruhnya, dan sepertinya di masa depan pun akan tetap menggelombang dengan letusan-letusan yang dahsyat. Karenanya ia merupakan dzat atau substansi fundamental manusia.
Sebagaimana sebuah gunung yang tampak kokoh mengandung onggokan api yang berputar hebat menyala-nyala di dalamnya, tertutup oleh kulit bumi yang tipis. Demikian pula manusia, berkas-berkas perasaan yang berapi-api dan mendidih ditutupi oleh kulit tipis kebiasaan dan undang-undang. Inilah realitas.
Nah jika Tuan ingin menegakkan sebuah bangunan yang luhur dan kukuh, maka Tuan harus meletakkan bahan-bahan itu secara dalam di jero gerak dan diam Tuan. Tuan tidak akan mampu menentang sentimen dengan valuta asing. Dan Tuan tidak akan mampu melawan temperamen dengan ilmu fisika. Realitas ini, selama planet bumi beredar, tidak perlu diuji lagi.
Tenggang Rasa Tepa Salira
Undang-undang itu kuat. Kebiasaan, lebih kuat lagi. Tetapi kedua-duanya lebih menyerupai akibat daripada sebab. Kedua-duanya itu diciptakan oleh perasaan, dan, hanya dapat dipaksakan selagi masih ada perasaan di belakangnya.
Nyanyian suatu bangsa, gelak tawa, ratap tangis, taman bunga, senja hari, badai, semua ini adalah dasar-dasarnya yang sanggup membangun ataupun merobohkan pasar, pemerintahan, negara, bahkan keyakinan dan kepercayaan.
Dengan demikian, bukankah Tuan tidak dapat memungkiri kekuatan dunia yang disebut dengan perasaan?!
Ya, sampai gagak beruban, Tuan tidak akan maju dengan anggapan bahwa kekuatan nyata yang sesungguhnya dalam kehidupan manusia itu adalah emas, atau kalkulator, atau kebijakan publik!
Semestinya Tuan tidak menciptakan inovasi dengan mengandalkan mesin. Karena setiap inovasi yang bersifat mekanis [tanpa perikemanusiaan] tidak akan pernah memperoleh hasil yang unggul.
Jadi kalau pun berinovasi, di sini berarti perbaikan persaudaraan antar manusia. Toko, umpamanya, punya tata kelolanya sendiri, demikian pula penataan produk-produk yang dijualnya. Toko yang satu dingin, angkuh dan acuh tak acuh, sedangkan toko yang lain hangat, ramah dan responsif. Silakan Tuan tanyalah pada ibu-ibu yang suka berbelanja di toko yang ramah itu, dengan mudah pasti ia dapat menuturkan letak susunan produk yang dijual di toko itu.
Inti [cara] berdagang adalah merasakan apa yang dirasakan oleh pelanggan. Dan bukan cuma penempatan barang yang ideal, bukan pula kecerdikan tawar menawar, dan juga bukan kepandaian berdebat yang hanya akan menyingkirkan simpati pelanggan.
Sama halnya dengan dunia pendidikan, murid mana mau belajar apabila ia tidak suka pada gurunya, atau tidak bangga pada almamaternya, yang lantas membiarkan nama perguruannya terkubur! Dan lagi, murid mana mau diarahkan untuk mempunyai renjana akan pengetahuan apabila ia membenci bacaannya, menghina penulis bukunya dan memandang perguruannya tak lebih dari satu tempat yang digembirakan dengan olahraga bela diri? Anak didik; emosi mereka harus dirasakan oleh tenaga pendidik, bukan disia-siakan, apalagi diintimidasi.
Lalu, maukah Tuan membebaskan pembelajaran dari oknum yang membangun sistim paksa itu? Atau, kapan Tuan mau mengajarkan hidup, bukan mengajarkan mati?!
Aktor itu Bernama Perasaan
Kita harus tahu lebih dalam tentang perasaan ini. Karena, apakah ada hal kemanusiaan yang dapat dipecahkan tanpa melibatkan substansi yang satu ini?
Hamba tidak menjunjungnya, apalagi merendahkan unsur yang lainnya. Hamba hanya berusaha menunjukkan bahwa ini adalah satu kebenaran yang riil dan jelas. Kebenaran yang paling mudah dan paling cepat untuk dilupakan. Kebenaran yang tampak sebelum realitas, juga sebelum pertimbangan, apalagi pendapat dan komentar. Jadi, sebelum hal-hal lainnya.
Tolonglah, Tuhan, tolong beri aku petunjuk di mana dapat kutemukan…. oh di mana bagian yang hilang itu?, atau Engkau kembalikan ia seutuhnya
Tak seorang pun yang akan tahu di mana ia berada, pula tidak akan tahu dengan siapa ia bersama, tidak tahu pula [keberadaan] dirinya sendiri sebelum ia menyadari kekuatan yang dahsyat ini, yang disebut rasa dan/atau perasaan.
Hamba harus tahu lebih dalam tentangnya. Karena, apakah ada hal kemanusiaan yang dapat dipecahkan tanpa melibatkan unsur perasaan? Namun lalu buat apa?
Karena selama hamba peduli dengan perasaan ini, dan/atau selama hamba merasakan, dan/atau bahkan selama makhluk yang satu ini hamba anggap ada, maka Dzat Wajibul Wujud tidak ada!