• Skip to primary navigation
  • Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

(isi)

Insan Sadar Indonesia

  • SIAPA
    • INDIVIDU
    • ORGANISASI
  • MENGAPA
  • BAGAIMANA
    • KERJA MANDIRI
    • KERJASAMA KAMI
  • APA
    • BANGUN KAPASITAS
    • BANGUN MEREK
  • KONTAK
  • DISCLAIMER

Sadar Ihsan

11/03/2011 by Admin

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Qod aflaha man zakkaaha. wa qod khooba man dassaaha

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy Syams : 9-10)

Salah satu tugas utama yang Alloh tetapkan kepada utusan-Nya, Muhammad Saw adalah untuk menyucikan manusia.

Firman Alloh SWT :

“Dialah yang mengutus seorang Rosul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. al Jumu’ah : 2)

Oleh karena itu, ilmu untuk tazkiyah (tashowuf) adalah ilmu pengetahuan Islam dan diwajibkan oleh Alloh agar selamat dunia dan akhirat.

Tashowuf bukan pengetahuan asing. Ini adalah bagian dari Qur’an dan Islam. Ilmu Tashowuf dalam bahasa al Quran disebut tazkiyah yang berarti penyucian hati, pikiran, tubuh dan jiwa. Jadi ilmu tashowuf adalah ilmu yang mengkaji tentang cara menyucikan hati.

Menurut Imam al Gozali dalam Iqodul Himam hal. 8:

Innahu fardlu ‘ainin idz laa yakhluu ahadun min ‘aibin au marodhin illal anbiyaa ‘alaihimus salaam

Sesungguhnya mempelajari dan melaksanakan ilmu tashowuf itu fardu ain karena seseorang tidak luput dari cela atau penyakit batin kecuali para nabi as.

Imam asy Syadzili: Barangsiapa tidak merasa terbelenggu terikat di dalam ilmu kita ini, maka ia mati dalam keadaan menetap dosa besar padahal ia tidak tahu akan dosa itu.

Syaikh as Sanusi: Nafsu itu jika telah mendesak tak ada bedanya dengan musuh. Jika ia datang secara tiba-tiba, maka wajib melawannya dan berusaha minta pertolongan untuk mengalahkannya sekalipun tanpa seizin kedua orang tua.

Syaikh Junaid al Bagdadi: Jika aku tahu di kolong langit ini ada ilmu yang lebih mulia dari ini yang sedang kita kaji bersama sahabat-sahabat kita (ilmu tashowuf), tentu aku datang secepatnya ke tempat itu untuk memperolehnya.

Syaikh Shiqli dalam Anwarul qulubi fi ‘ilmil mauhub: setiap orang yang membenarkan ilmu ini ia termasuk orang tertentu dan setiap orang yang memahami ilmu ini, ia lebih dari orang itu, dan orang yang memperdalam ilmu ini dan berbicara tentang kedalamannya, maka ia merupakan bintang di langit yang sulit dijangkau dan seakan-akan lautan yang tak pernah surut.

Syaik Zaruqi mengatakan bahwa hubungan antara tashowuf dengan Agama Islam sebagaimana hubungan ruh dengan jasad. Karena tashowuf itu untuk mengisi maqom ihsan, satu dari tiga kerangka Agama Islam yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad Saw di dalam keterangannya kepada Jibril as:
An ta’budallooh ka annaka taroohu
“Hendaklah kamu mengabdikan dirimu kepada Alloh seakan-akan kamu melihat-Nya.”

Bagaimanapun hal ini tidak dapat dilakukan kalau dengan badan jasmani yang lahir, karena semua panca indra tidak mampu, melihat dengan mata kepala tidak mampu. Oleh karena itu bagaimana cara merasakan seakan-akan melihat-Nya kalau bukan dengan kehalusan yang ada di dalam diri kita sebagai alat yang telah diberikan oleh Alloh kepada kita, karena Alloh Maha Halus dari yang dikatakan halus.

Firman Alloh SWT:

Laa tudrikuhul abshooru wa huwa yudrikul abshooro wa huwa al lathiifu al khabiiru

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata lahir, dan Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. al An’am : 103)

Firman Alloh SWT:

Wa fil ardhi aayaatun lil muuqiniina, wa fii anfusikum afalaa tubshiruun

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang yang yaqin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Tidakkah kamu memperhatikannya?”. (Q.S. adz Dzariyat : 20-21)

Kalau kita teliti kalimat dalam ayat 21 tersebut dengan cermat, para ahli tafsir mengartikannya sama, seperti yang tercantum di dalam tafsir-tafsir terjemahan, bahwa firman Alloh afalaa tubshiruun diartikan tidakkah kamu memperhatikannya?

Pertanyaan ini bukan untuk dijawab dengan lisan, tetapi memerlukan perasaan yang mendalam dari lubuk hati. Yang ditekankan di situ bukan mata, telinga, lisan dan lain sebagainya dari anggota lahir kita, akan tetapi hati, sebagaimana tercantum dalam kalimat memperhatikan. Jadi yang ditanya adalah hati.

Lihatlah akibat orang tidak menggunakan pikiran, yang mana pikiran itu perjalanan hati, sebagaimana dijelaskan dalam kamus al Munjid; pikiran itu perjalanan hati.

Jadi di mana hati berpikir, ia pergi dengan kecepatan yang tidak terhingga, pergi ke mana ia ingat.

Bersambung…

Filed Under: (Rekreasi Personal) Tagged With: .Spiritual, (Baik Layanan), 5Kesejahteraan, Ev4luasi, keLUARBIASAan


ARTIKEL LAIN UNTUK MEMBANTU TUAN TAMPIL

  • Sadar Maju Terus - Dibutuhkan seumur hidup untuk belajar bagaimana hidup. Tuan harus menggunakan sebagian besar waktu menaiki dataran…
  • Sadar Nurani - Nurani adalah suara dalam diri kita yang sering kali terdengar bisikan lembut di telinga batin.…
  • Sadar Apresiasi - Apresiasi adalah ungkapan rasa penghargaan dan pengakuan terhadap nilai, usaha atau kebaikan yang ditunjukkan oleh…
  • Sadar Keadilan Sosial - Keadilan sosial adalah prinsip fundamental yang menopang struktur masyarakat yang beradab. Ia merupakan aspirasi untuk…
  • Sadar Budaya - Budaya bukan sekadar pakaian yang kita kenakan atau makanan yang kita santap; ia adalah ekspresi…

Primary Sidebar

Footer

Insan Sadar Indonesia (isi)

: para pencinta
yang sadar akan kondisi,
bermitra dengan individu dan/atau organisasi
guna membayangkan peluang
yang dapat menyelaraskan tujuan bermakna sebuah merek
dengan dampak positif.

Copyright © 2026 (isi) by Genesis Framework