Setelah kita memperhatikan cara kerja pikiran kita yang tersurat dalam artikel sebelumnya, mari simak apa yang harus kita lakukan dengan pikiran itu, dan siapa orang yang dimaksud oleh judul bahasan ini.
Dengan bentakan Alloh dalam surat adz Dzariyat tersebut, kita jangan leha-leha, acuh tak acuh, cuek, masa bodoh, lenggang kangkung, santai-santai saja, sebaiknya segera membuka mata untuk melihat ke mana kita pergi, membuka telinga untuk mendengar, barangkali ada orang yang sedang ngomong-ngomong tentang orang yang ahli dalam membuka hati yang masih tertutup, sebagaimana dijelaskan oleh Alloh SWT:
“Di antara mereka ada orang yang mendengarkan pengajaran engkau dan kami adakan tutup-tutup atas mata hati mereka, sehingga mereka tiada mengerti apa-apa dan kami adakan pekak di telinga mereka. (Q.S. al An’am : 25)
“Sesungguhnya kami adakan tutup atas hati mereka, sehingga mereka tidak memahaminya dan di telinga mereka ada sumbat.” (Q.S. al Kahfi : 57)
Untuk membuka hati yang tertutup itu memerlukan ilmu dan ahlinya, yaitu tashowuf dan shufi, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan.
Perintah Alloh SWT:
“Maka tanyakanlah kepada ahli dzikr jika kamu tiada mengetahui.” (Q.S. an Nahl : 43)
Jangan coba-coba menanyakan sesuatu kepada yang bukan ahlinya, akibatnya sebagaimana penjelasan Rosululloh Saw dari Abi Huroiroh:
“Manakala sesuatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (H.R. Bukhori)
Sampai sekarang masih banyak gambaran ahli tashowuf itu; ada yang dinyatakan pada pakaian yang serba putih, ada yang dengan jubah, ada pula dengan memakai celana sontog, pakaian compang camping, menjauhkan diri dari khalayak ramai, jalan sambil merunduk selalu tak melihat langit, mengunci diri di kamar sendirian tidak kena panas matahari, ada pula yang wudhunya sampai membasahi seluruh pakaiannya, ada pula yang mencuci pakaiannya sampai ditunggui kalau-kalau ada lalat hinggap membawa kotoran, dan lain sebagainya.
Padahal ciri-ciri ahli tashowuf itu menurut keterangan Syekh Abdul Qodir al Jailani qs di dalam Sirrul Asror halaman 27:
Wa lam yusamma ahlut tashowwufi illaa litashfiyati baathinihim bi nuuril ma’rifati wat tawhidi
“Tidak disebut ahli tashowuf kecuali mereka membersihkan batinnya dengan nur ma’rifat dan tauhid.”
Kedua-duanya itu merekapun (ahli tashowuf) tidak menemukan sendiri tanpa melalui seorang ahli, tetapi hasil usaha dengan cara mendatangi ahlinya dan meminta kepadanya. Dan walaupun sering ketemu ahlinya atau malahan menjadi staf ahli, kalau tidak meminta, tidak diberikan.
Sebagaimana permintaan Ali bin Abi Tholib kw kepada Rosululloh Saw, “Tunjukkanlah kepadaku jalan paling dekat kepada Alloh SWT dan paling mudah dilaksanakan oleh seluruh hamba Alloh dan paling utama menurut ketetapan Alloh SWT.”, Nabi Saw bersabda, “Wajib atasmu selalu dzikir kepada Alloh sir dan jahr”.
Segera setelah itu proses talqin terjadi.
Bukan menunggu sakit keras, atau ditangguhkan setelah dikubur oleh orang yang masih hidup, ditabur bunga dulu baru ditalqin. Bukan begitu! Itu urusan orang hidup di dunia yang hukumnya merawat mayit itu fardlu kifayah, mandinya, berpakaiannya, sholatnya, pergi ke kuburannya, urusan orang lain yang hidup.
Yang penting sekarang adalah sebelum menemui saat-saat seperti itu, temui ahlinya, seperti Ali bin Abi Tholib kepada Rosululloh Saw, agar dengan kalimat itu iman menjadi kuat, teguh dan mantap, tidak rapuh, tidak mudah goyah, tidak mudah terombang ambing, tidak mudah kena goncangan, tidak mudah tersinggung, tidak terpengaruh oleh arus yang tidak baik, tidak berburuk sangka pada orang lain, tidak merasa diri lebih dari orang lain, dan semua sifat-sifat yang tercela; munafik, zholim, sombong, musyriq, kufur, durhaka, keakuan, semuanya musnah tergilas oleh kalimat ikhlas, kalimat mulia, kalimat taqwa, kalimat tauhid, kalimat thoyibah. Itulah kehebatan kalimat Laa ilaaha illallooh.