Semua orang punya keahlian di tangannya sendiri; seperti tukang bakso, daging cincang dan racikan bumbu adalah bahan mentah yang akan dicetaknya menjadi bakso. Sama dengan jenis aktivitas seni lainnya, bahwa kita terlahir dengan kemampuan untuk mengubahnya ke dalam produk yang kita inginkan, untuk mencetak bahan ke dalam produk jadi. Dan itu keterampilan yang harus dikuasai.
Penguasaan diri adalah tentang mencetak bahan baku (yaitu Tuan) menjadi orang yang Tuan inginkan, menjadi orang yang seharusnya; orang yang tahu bagaimana hidup dengan baik, yang dewasa dalam menghadapi berbagai situasi, yang sabar, peduli dan berani, yang tidak mementingkan diri sendiri, jujur, adil, dan rendah hati.
Tuan bisa membaca ratusan biografi yang lengkap. Tuan bisa mendedikasikan diri Tuan untuk mempelajari kiat-kiat di luar sana untuk menghemat waktu, melakukan lebih banyak dan berprestasi. Dalam biografi dan kiat-kiat tersebut, Tuan hanya akan menemukan satu benang merah; penguasaan diri.
Ini tentang mengenal diri sendiri, cerdas berinvestasi dalam hal-hal yang membuat Tuan bahagia dan terpenuhi dalam permainan panggung sandiwara kehidupan.
Di luar gen, bakat dan keberuntungan, ada disiplin dan pengendalian diri; dibandingkan keduanya yang lebih banyak berpengaruh adalah penguasaan diri.
Orang menghabiskan seluruh hidup mereka menjadi pengusaha, bekerja berjam-jam dan mengambil risiko yang tak terhitung jumlahnya. Tapi tidakkah masuk akal bila diinvestasikan pada membangun diri sebagaimana mereka berinvestasi pada perusahaan?
Tuan hanya punya satu nyawa di dalam kehidupan yang satu ini. Janganlah membabi buta mencoba mendaki tangga kesuksesan karier yang curam namun lupa mengikat sepatu Tuan. Jatuhnya bisa begitu menyakitkan.
Apa gunanya punya karier yang sukses namun jiwa Tuan terasa hampa setiap kali pulang kerja?
Yang terlintas dalam benak hamba adalah seorang sukses yang bersinar di tempat kerja dan sedang merayakan dirinya sendiri namun lupa menjemput anaknya dari latihan bermain gitar.
Tuan bisa kehilangan karier Tuan. Tuan bisa kehilangan properti Tuan. Tuan bisa kehilangan keluarga Tuan. Tuan bisa kehilangan segalanya. Hal terakhir yang akan Tuan hilangkan adalah diri Tuan. Mau?