Kejujuran, mari kita mulai dengan mendefinisikan esensinya dan menetapkan batas-batasnya. Salah satunya kita harus memahami bahwa kejujuran itu sebagai suatu kebajikan, dan sebuah karakter yang dirawat dari waktu ke waktu oleh kehendak kita. Seperti halnya kebajikan yang lain, kita menyatakan bahwa tak satu pun orang dilahirkan jujur. Orang menjadi jujur atas dasar proposisi (baca: ungkapan yang dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya) yang dipraktikkan selama periode waktu yang panjang.
Baiklah kita tetapkan dua pernyataan, bahwa kejujuran harus (1) dipahami sebagai komitmen untuk menemukan kebenaran dan bertindak sesuai dengannya, (2) dipahami sebagai bertentangan dengan pemalsuan fakta.
Yang pertama mencakup semua aspek kehidupan manusia. Dan yang kedua merujuk lebih spesifik ke segi hubungan manusia di mana sesuatu dikomunikasikan kepada orang lain sebagaimana sesuatu ini telah lebih dahulu diketahui.
Pengalaman hidup mengacu pada perilaku, yang merupakan medan kebajikan. Deskripsi seseorang itu jujur mengacu pada integritas perilakunya. Kita tidak dapat menyatakan bahwa seseorang jujur dalam beberapa aktivitas tetapi tidak pada aktivitas yang lain, bahwa mereka tidak akan mencuri atau berbohong, bahwa mereka tidak akan berpura-pura menjadi yang lebih berpengetahuan daripada yang sebenarnya, atau bahwa mereka tidak punya motif tersembunyi. Integritas adalah satu ciri khas dari orang jujur karena orang itu tidak menemukan kontradiksi dalam dirinya, atau dalam tindakannya, pemikirannya atau dalam kata-kata yang disampaikannya kepada orang lain atau bahkan kepada dirinya sendiri.
Kejujuran juga dipahami sebagai menolak pemalsuan fakta dalam hubungan dengan orang lain. Beberapa pertanyaan muncul dari sudut pandang ini, misalnya, apakah bersikap jujur mengharuskan kita untuk mengomunikasikan semua pikiran dan perasaan kita yang paling dalam kepada mereka yang kita cintai.
Kejujuran dianggap sebagai kebajikan sampai batas tertentu sebagaimana yang telah kita nyatakan sejauh ini, yang juga menuntun kita mempertimbangkan bahwa kebajikan tidak pernah mutlak. Begitu pun kejujuran, dalam kasus-kasus tertentu boleh jadi bukan suatu kebajikan. Dengan demikian, menyampaikan kebenaran ketika dilakukan untuk memanipulasi atau menyebabkan bahaya tidak dapat dinyatakan sebagai tindakan yang terhormat.
PEMAHAMAN MENJADI KABUR OLEH KEPENTINGAN YANG MEMALSUKAN KENYATAAN
Kejujuran dimulai dengan diri sendiri. Ketertarikan pada pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk memahami perilaku seseorang adalah indikasi seseorang yang ingin jujur pada dirinya sendiri. Kejelasan mengenai batasan dalam apa yang ia cari, dan menghindari rasa puas diri dan menipu diri sendiri adalah tiga keunggulan dari orang jujur.
Gema dari perlakuan jujur seseorang terhadap dirinya dapat didengar dalam kejujuran yang ia perlakukan kepada orang lain. Dan itu salah satu autentisitas. Jadi, kejujuran mengimplikasikan autentisitas di mana perilaku seseorang konsisten dengan seperangkat prinsip yang secara moral baik.
Kejujuran adalah ekspresi penghargaan terhadap diri sendiri dan rasa hormat kepada orang lain; kejujuran adalah komitmen untuk menghindari jatuh ke dalam penipuan terhadap diri sendiri atau menipu orang lain demi kepentingan sendiri.
Pengakuan terhadap nilai kejujuran seseorang dan bentuk kepercayaan dari orang lain adalah imbalan atas kebajikan ini, meskipun bukan imbalan ini yang memotivasi orang yang berbuat kebajikan. Karena mengharapkan imbalan seperti itu akan menyebabkan penantian yang sia-sia dan kekecewaan. Orang yang jujur tidak akan menerima imbalan lebih banyak daripada miliknya sendiri, yaitu kepuasan karena mengetahui bahwa ia telah bertindak sesuai dengan perintah integritasnya.
Dan ini berarti perbedaan antara memperoleh apa yang ‘benar-benar’ kita inginkan dengan memperoleh apa yang ‘kita anggap’ kita inginkan. Artinya, apa yang kita inginkan di atas keinginan orang lain atas diri kita, dan kita hanya ingin menyenangkan mereka. Sekali saja kita menjalani hidup di atas keinginan orang lain, dan membohongi diri sendiri, kita akan terus menjalani hidup seperti itu. Dan jika kita menyangkal terus fakta bahwa kita tidak jujur pada diri sendiri, kita tidak akan punya kekuatan untuk mengubah segala yang perlu diubah.
Di sisi lain, ketika kita jujur pada diri sendiri. Kita cenderung menentukan hidup kita, banyak hal positif akan terjadi. Kita akan lebih termotivasi dan berpikir lebih jernih, dan terdorong untuk mengambil tindakan. Kita merasa puas dan merasa damai karena kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
Sejujur apa Tuan pada diri sendiri?