Jika kita sadar bahwa hati setiap manusia adalah ruang suci, maka kita akan melihat sesama secara berbeda dan berperilaku dengan belas kasihan dan kepedulian yang lebih besar.
Hubungan Ilahiyah
Citra yang ada pada sesama atau orang lain ini adalah fondasi bagi praktik khidmah (melayani). Dalam berkhidmah kepada orang lain, sebenarnya kita berkhidmah kepada sifat Ilahi yang ada pada diri orang lain. Menghormati hati setiap orang adalah disiplin yang tinggi. Ini yang sering tidak kita sadari. Kalau kita sadari, hidup kita dan semua hubungan sesama kita akan berbeda.
Menjadi seorang sufi adalah menyadari bahwa hati setiap orang yang kita temui adalah ruang suci, dan menghormatinya. Menjadi seorang sufi adalah melayani orang lain.
Dalam kehidupan, banyak hati telah terluka. Dan dengan melayani, kita menyembuhkan orang-orang yang terluka ini. Khidmah ini akan menyembuhkan luka kita sendiri juga.
Suatu hari seseorang bertanya kepada seorang sufi bagaimana cara sampai kepada Alloh. Sufi menjawab bahwa jalan menuju Alloh sebanyak makhluk ciptaanNya. Ia melanjutkan, “Yang paling dekat, paling cepat dan paling mudah adalah melayani orang lain, tidak usil (mengganggu orang lain), dan bahkan menyenangkan orang lain.”
Tasawuf memberi kita konteks yang dengannya kita bisa berhubungan satu sama lain. Sebuah konteks yang didasarkan pada keyakinan mendasar bahwa Tuhan hadir di dalam diri kita masing-masing.
Dalam konteks ini, kita bisa melihat dan menyadari keburukan kita masing-masing. Banyak orang pelit, yang lain tidak menepati janji, yang lainnya lagi tidak punya kesabaran. Nah bukan itu kita sebenarnya. Kita juga punya kebiasaan, namun kita harus sadar bahwa kita bukan kebiasaan kita. Kebiasaan itu sementara. Sedangkan yang nyata dan abadi adalah sifat ilahiyah di dalam diri kita. Dan apa pun yang membantu kita mendekat kepada Tuhan, atau memunculkan sifat ilahi di dalam diri kita, itulah diri yang sebenarnya, pusat diri kita. Apa pun yang mengaburkan realitas ini bukanlah kebenaran.
Ketika kita fokus pada kesalahan atau keburukan orang lain, kita membuat kesalahan atau keburukan itu menjadi lebih nyata baik pada orang lain maupun pada diri kita. Jika kita melihat keindahan pada orang lain, kita melakukan khidmah dan kita juga melakukan khidmah kepada diri sendiri. Mereka itu adalah jiwa-jiwa. Sifat negatif kepribadian dapat diubah, dan kebenaran mendasar adalah bahwa kita semua mendambakan keharmonisan.
Para sufi tidak membiarkan ego mereka tumbuh karena ego orang lain.
Kita perlu mengubah bagaimana kita melihat diri kita dan satu sama lain. Pertama-tama kita harus menyadari keberadaan sifat Ilahi dalam diri kita, menyadari kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Dengan begitu hal yang sama akan tampak pada diri orang lain, dan lalu memperlakukan mereka selayaknya.
Latihan Sadar Hati
Semakin sadar Anda akan pusat diri Anda, hati semakin terbuka dan berenergi.
Seiring berjalannya kehidupan sehari-hari, bayangkan hati Anda sebagai matahari besar yang memancarkan cahaya bagi semua orang dan segala sesuatu yang Anda temui. Sementara pikiran dan mulut Anda sibuk dengan pemikirannya dan percakapan, biarkan cahaya yang keluar dari hati Anda menyentuh dan menghangatkan hati-hati yang lain. Seolah ada transaksi atau percakapan kedua sedang berlangsung selama percakapan itu.
Biarkan suryahati Anda menyentuh suryahati-suryahati setiap orang yang Anda temui. Tidak peduli siapa mereka atau bagaimana karakter dan kepribadian mereka, hati mereka sama seperti hati kita; hati mereka mendambakan cahaya ilahi, sama seperti hati kita.