• Skip to primary navigation
  • Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

(isi)

Insan Sadar Indonesia

  • SIAPA
    • INDIVIDU
    • ORGANISASI
  • MENGAPA
  • BAGAIMANA
    • KERJA MANDIRI
    • KERJASAMA KAMI
  • APA
    • BANGUN KAPASITAS
    • BANGUN MEREK
  • KONTAK
  • DISCLAIMER

Sadar Kemauan

16/10/2016 by Admin

Kalau disimak, melakukan sesuatu adalah satu-satunya hal yang kita lakukan dalam kehidupan; makan, tidur, bermimpi, menulis puisi, membaca artikel, nge-like, bahkan diam pun adalah melakukan sesuatu. Dan he! biar kata Tuan berdiam diri, Tuan memberikan kontribusi buat perubahan dunia 🙂
By the way catatan ini layak dibaca oleh siapapun yang sedang mood beromong kosong, terutama bila ia seorang pengangguran.

Mari kita lanjutkan dengan sesuatu yang tidak penting, sesuatu yang tampak nyata namun tidak, yakni pengalaman hamba, yang menunjukkan bahwa hamba terlalu egois untuk peduli pada; [garis bawahi cetak tebal tulis miring stabilo] sebuah kebijaksanaan ini:

KEMAUAN

Menurut hamba, kemauan adalah upaya tanpa henti untuk meraih sesuatu yang tujuannya Tuan anggap jelas dan pasti. Bagi hamba, kemauan sama dengan memaksakan diri. Di sini hamba akan menggambarkan betapa rumitnya konsep kemauan. Termasuk dengan bukti betapa buruknya memaksakan diri itu.

Kemauan = memaksakan diri, karenanya istilah kemauan itu menyesatkan. Setiap jenis pemaksaan terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu; “Harus punya kemauan”, “Harus mau kerja keras”, “Mau tidak?”, ‘Jadi maunya apa?’, pernah dengar itu semua?, menyesatkan!

Jika Tuan seorang komposer dan berpikir harus tercipta sebuah lagu saat ini, untuk menyelesaikannya Tuan perlu kemauan. Atau ketika berurusan dengan deadline, Tuan perlu kemauan. Atau mungkin juga ketika Tuan mau menyelesaikannya, lalu di saat Tuan benar-benar terganggu, Tuan sekuat tenaga berkonsentrasi penuh, tetapi Tuan tidak bisa!

Itulah, masalahnya apa yang Tuan upayakan tidak memberikan hasil sebagaimana yang Tuan bayangkan sebelumnya. Namun Tuan yakin itu bisa diselesaikan, karena Tuan biasa melakukannya. Perangkap!

Hamba sering terperangkap, kena jebakan. Misalnya, ketika hamba berupaya menangkap melodi sebuah lagu, memerlukan waktu lima jam. Tuan tahu, waktu sebenarnya yang diperlukan untuk menyelesaikan cuma satu menit. Apakah hal seperti ini pernah terjadi pada Tuan? Jika saja hamba tidak memaksakan diri saat itu, tentu hamba akan enak bermalas-malas, dan menyelesaikannya lain waktu, otomatis hanya dalam waktu satu menit. Penemuan terjadi bukan karena kesengajaan.

WAJARNYA MANUSIA ITU MENCIPTA

Mencipta ini tertanam dalam setiap sel manusia, sama seperti halnya rasa jijik pada kecoa. Inilah karakteristik spesies kita.

Hamba ingat ketika berumur dua belas tahun berkunjung ke rumah keluarga jauh. Waktu itu kami; hamba, orang tua dan saudara hamba berkumpul di ruang keluarga, saling bertegur sapa dan sebagainya. Entahlah, hamba tidak begitu mempedulikan suasana, karena perhatian hamba tertuju pada sebuah gitar yang katanya kemudian bahwa itu gitar turunan leluhur saudara jauh hamba itu. Seketika terbayang bagaimana kalau hamba mencipta lagu dengan gitar itu. Tanpa berpikir dua kali, saat itu juga hamba ambil gitar itu, lalu mulai memetik senarnya. Beberapa menit hamba mainkan, sambil lalu hamba perhatikan sekeliling kalau-kalau ada yang memperhatikan. Dan ternyata, semua orang terkesima oleh permainan gitar hamba. Hamba teruskan dengan improvisasi blues yang kental sambil lalu hamba perhatikan mereka kembali, mereka menitikkan air mata. Tiga lagu medley, hamba pun berhenti. Mereka sibuk menyusut mata sambil bilang bahwa baru kali ini mereka mendengar alunan melodi seindah yang hamba mainkan. Eits gak gitu juga sih, hamba hanya membayangkan bagaimana kalau hamba mencipta lagu dengan gitar itu. Intinya adalah hamba punya hasrat untuk ini; mencipta lagu. Got ya!

Lanjut, jika Tuan melihat sejarah peradaban manusia, bukankah itu semua tentang penciptaan? Mengadakan sesuatu dari ketiadaan. Mengubah gelap menjadi terang. Dengan kemajuan yang kita rasakan, dapat Tuan bayangkan; 10.000 tahun yang lalu hanya ada dataran, padang pasir dan lautan. Tapi dengan pesat kita mencipta Gedung Sate, Monas, Borobudur dll. Belum sastra, mantik, antimateri. Tanpa bersusah payah, kita mencipta sesuatu. Ini adalah kekuatan spesies kita.

Di sana terdapat kekuatan besar. Kemampuan untuk mencipta arsitektur yang monumental, kecapi, televisi, ponsel cerdas dll. Lalu tiba-tiba Tuan lahir dan berpikir bahwa dengan ‘upaya kecil memaksakan diri’ Tuan bisa melakukan segalanya?! Bahkan lebih buruk, Tuan berpikir Tuan harus melakukan ini itu untuk mencipta segalanya! Tuan kuatir jika Tuan tidak memaksakan diri, maka tak akan ada yang bisa terselesaikan! Woalah mak… kacaunya!

Tuan pikir Chairil Anwar memaksakan diri ketika ia menulis “Racun berada di reguk pertama”? Tuan pikir Lennon memegang gitar setiap jam enam pagi, memaksakan dirinya menulis “All the lonely people, where do they all come from?“? Atau apakah sambil mabuk mereka mencipta semuanya?

Tuan tahu apa yang menghalangi Tuan untuk menerima kenyataan bahwa bukanlah Tuan yang membuat keputusan dan melakukan segalanya? Rasa takut? Nah ketakutan tak membuat Tuan terhindar dari konsep ini. Itu hanya pikiran Tuan bahwa hidup akan kacau bila Tuan berhenti memaksakan diri.

HENTIKAN! JANGAN BERPIKIR DENGAN CARA ITU!

Tuan tak perlu berusaha sekeras itu. Tuan tak perlu kerja keras. Jika Tuan dapat melepaskan rasa takut Tuan untuk sesaat saja, Tuan akan segera mendapati bukti bahwa Tuan tak harus mengendalikan segalanya! Banyak hal terjadi begitu saja.

Sesuatu muncul di kepala Tuan, lalu Tuan merasa harus mengerjakannya? Itu terjadi ketika rasa takut menari-nari di dalam diri Tuan; “Aku mesti menyelesaikannya!”. Faktanya ketika hamba bermalas-malasan, pada saat itu hamba mendapatkan cara cemerlang untuk menyelesaikan banyak kerjaan dengan melakukan sedikit saja!

Lagi, apakah Tuan memaksakan diri untuk bernapas, sampai-sampai Tuan googling ‘cara bernapas yang efektif dan efisien’? Apakah Tuan memaksakan diri untuk tidak meletakkan tangan Tuan ke atas api? Apakah Tuan memaksakan diri untuk tidak mengambil sebotol racun lalu meminumnya? Mmm…

Lanjut, apakah Tuan berpikir jika ada orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya, maka ia akan menjadi liar dan membunuh orang lain tanpa sedikitpun moralitas, dan ketika Tuan berpapasan dengan orang itu di jalan, apakah Tuan memaksakan diri untuk menumbuhkan kendali yang dapat menahan diri Tuan untuk tidak membunuhnya? Hamba tekankan di sini, hamba bergaul dengan orang-orang tanpa memaksakan diri! Bahkan hamba tidak perlu berdoa, “Oh Tuhanku…, tolonglah hamba…, jangan biarkan hamba-Mu ini membunuh orang itu!”.

Hamba percaya Tuan memahami maksud catatan ini.

Ketika Tuan mengesampingkan konsep kemauan ini, Tuan hanya akan mengikuti perasaan Tuan, pelan-pelan dan percaya diri. Hamba melakukan segalanya dengan cara itu. Sebagai contoh, post di Facebook. Tak satu posting-pun yang hamba tulis dengan cara memaksakan diri. Hamba hanya menulis ketika hamba punya sesuatu untuk diungkapkan. Terkadang hamba punya sesuatu untuk diungkapkan tapi tak mood untuk menulis, hamba pun tak update status. Hamba membiarkan diri hamba melakukan apapun yang diinginkannya.

TAK WAJARNYA MANUSIA ITU MEMAKSAKAN DIRI

Meskipun menarik bagaimana kita bisa menjadi terbiasa berpikir harus memaksakan diri, namun hamba tidak punya ruang lebih untuk menulis lebih lanjut tentang konsep ini, ya, karena dangkalnya pengetahuan hamba dan karena konsep ini berasal dari… ketika hamba buka Facebook lalu membaca “mau mau mau seribu triliun mau…”, terlintas di benak hamba tentang kemauan, lalu hamba pikir mengapa hamba tidak minum sebotol racun? Cukuplah untuk saat ini pertanyakan kembali persepsi Tuan tentang kemauan.

Filed Under: (Rekreasi Personal) Tagged With: .Intelektual, (Kuat Tekad), 2Kemajuan, Implem3ntasi, keMANUSIAan


ARTIKEL LAIN UNTUK MEMBANTU TUAN TAMPIL

  • Sadar Dinamika Kelompok - Dinamika kelompok mengacu pada perilaku dan proses psikologis yang terjadi dalam interaksi kelompok. Sebuah fenomena…
  • Sadar Keindahan - Menyaksikan keindahan di dunia sekitar kita memberikan banyak kesenangan. Menciptakan hal-hal yang enak dipandang adalah…
  • Sadar Bahagia - Kebahagiaan adalah perasaan yang mengalir seperti sungai di tengah hutan. Ia tak selalu datang dalam…
  • Sadar Seminar - Hamba senang ketika hamba membantu orang membangun jaringan kreatif yang produktif. Ketika mereka menghadapi masalah…
  • Sadar Pengaruh - Pengaruh adalah kekuatan yang membentuk keputusan, perilaku dan pandangan kita. Ia hadir dalam berbagai bentuk,…

Primary Sidebar

Footer

Insan Sadar Indonesia (isi)

: para pencinta
yang sadar akan kondisi,
bermitra dengan individu dan/atau organisasi
guna membayangkan peluang
yang dapat menyelaraskan tujuan bermakna sebuah merek
dengan dampak positif.

Copyright © 2026 (isi) by Genesis Framework