Jika Tuan adalah seseorang yang pernah diberkahi dengan kesejahteraan finansial, katakanlah menjadi orang kaya, Tuan dapat menjadi bukti hidup bagi orang lain bahwa adalah mungkin untuk menjalani kehidupan di mana mengejar uang bukanlah tujuan utama.
Hamba menyaksikan keluarga yang hancur karena warisan. Hamba menyaksikan kebencian berkembang ketika satu anggota keluarga menjadi kaya dan yang lain tetap berada di bawah tekanan keuangan. Hamba menyaksikan ketika orang tua mencurahkan kekayaan pada anak-anaknya dan menemukan anak-anak itu menolak nilai-nilai kebaikan yang ditawarkan kekayaan itu. Hamba menyaksikan orang-orang yang lahir dari kekayaan tidak dapat mempercayai orang lain, takut bahwa setiap orang yang mereka kenal tertarik pada uang mereka. Hamba menyaksikan orang-orang yang menghasilkan banyak uang menghabiskan banyak energi psikis, mereka khawatir bahwa kesuksesan mereka tidak akan pernah bertahan lama, dan karenanya tidak mampu bermurah hati kepada orang lain. Banyak orang berduit begitu yakin bahwa orang lain membenci mereka karenanya, atau berusaha untuk menuntut mereka, mereka merasa harus menyembunyikan apa yang mereka miliki.
Jadi mari kita mulai dengan ini: jika Tuan punya uang, bersyukurlah atas kesempatan yang diberikan uang itu kepada Tuan.
Tantangan pertama dalam berurusan dengan uang adalah melepaskan keterikatan padanya, dan sebaliknya Tuan memandang uang sebagai hadiah sesaat yang telah Tuan terima dan oleh karena itu Tuan adalah pengurusnya. Tugas Tuan adalah menemukan cara agar Tuan dapat menggunakan sumber daya itu untuk beribadah.
Alam semesta telah luar biasa bermurah hati kepada kita. Salah satu tradisi Islam adalah bahwa bahkan orang miskin yang menerima amal harus memberikan kepada orang lain yang membutuhkan bagian dari apa yang telah mereka terima. Kesempatan untuk berbagi ini adalah salah satu berkah besar.
Leave a Reply