Setiap artikel kesadaran dalam blog ini dapat dipahami dan diintegrasikan ke dalam hidup Tuan dalam sekejap, namun untuk menemukan makna sepenuhnya dalam praktik bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk Tuan sadari.
Apakah Tuan ingat ketika pertama kali Tuan naik sepeda? Bersama ayah Tuan yang berjalan cepat sambil memegang sadel, dan begitu ia melepaskan pegangannya, Tuan terjatuh. Tampak sulit, Tuan berkali-kali mencoba, dan bertanya-tanya apakah Tuan bisa bersepeda, sampai suatu saat tanpa Tuan sadari ayah Tuan melepaskan pegangannya, dan beberapa detik setelahnya Tuan melihat ke belakang, ia berada beberapa meter jauh di belakang dan horeee… Tuan bersepeda, sendirian! Hei, ini mudah!
Tidak jauh berbeda dengan ketika Tuan bersepeda, materi kesadaran akan tampak sulit dipahami, tetapi begitu Tuan tahu cara kerjanya, itu mudah—dan karenanya, hidup menjadi jauh lebih mudah. Jika ada satu hal yang hamba mesti tekankan kepada Tuan, hidup itu mudah. Jika terasa sulit bagi Tuan, itu pasti karena Tuan, sadar atau tidak sadar, membuatnya sulit.
Hamba menyaksikan orang-orang yang mengalami satu drama hidup. Sebagian besar penderitaan. Mudahnya mereka menciptakan semua itu, juga mudah bagaimana mereka bisa berhenti menciptakannya. Bagi mereka, semua itu seolah ‘terjadi pada’ mereka. Mereka tidak melihat bahwa semua yang terjadi berasal dari diri mereka sendiri, dari cara mereka membuat setiap keputusan.
Sampai Tuan menyadari bahwa apa yang terjadi (atau setidaknya tanggapan Tuan terhadap apa yang terjadi) berasal dari diri Tuan dan bukan berasal dari luar diri, Tuan tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, begitu Tuan mengambil tanggung jawab, Tuan dapat mengambil kendali dan menciptakan segalanya seperti yang Tuan inginkan. Tuan menjadi lebih sadar.
Bagaimana hamba menggambarkan ‘sadar’ kepada Tuan? Banyak orang melemparkan istilah ini seolah-olah mereka tahu apa artinya, tetapi ketika hamba perhatikan, mereka mengerti.
Sadar berarti menganggap sesuatu bukan sebagai mekanisme respons yang otomatis. Ini berarti menyimak apa yang terjadi, di semua tingkatan secara bersamaan fisik materiel mental spiritual, setiap saat, dan memilih respons mental spiritual berdasarkan pilihan yang paling masuk akal pada saat itu. Tuan memproses semua kemungkinan dalam sepersekian detik dan merespons dengan cara yang benar—bukan dengan respons yang telah ditetapkan sebelumnya (yang hamba maksud dengan menjadi mekanisme respons otomatis), tetapi dengan pilihan yang optimal untuk situasi tersebut.
Sayangnya, tidak juga sih, kebanyakan orang membiarkannya berjalan secara otomatis. Mereka memegang aturan yang ditetapkan untuk semua yang harus dipikirkan, dirasakan dan dilakukan dalam berbagai situasi—aturan yang mereka peroleh ketika mereka terlalu muda untuk mengetahui lebih baik. Beberapa dari respons ini dipelajari melalui rasa sakit fisik emosional, dan dalam cara tertentu tertanam begitu dalam. Yang lain hanyalah hal-hal yang kita terima sebagai kebenaran karena orang tua kita menekankan secara berulang kali bahwa itu kebenaran ketika orang tua kita tampak seperti tuhan yang sempurna. Kita bereaksi tanpa memilih untuk melakukan hal lain karena yang bisa kita lakukan pada saat itu tampak menjadi hal yang paling masuk akal. Kita bereaksi secara otomatis yang, seringkali, mengarah pada masalah, merusak diri sendiri.
Orang-orang yang menjalani sebagian besar hidup mereka secara tidak sadar tidak tahu bahwa mereka merespons, berpikir dan berperilaku secara tidak sadar, dan itu semua adalah sesuatu yang mungkin Tuan lakukan selama ini, dan Tuan melakukannya dalam waktu yang cukup lama. Dibutuhkan kesadaran untuk menyadari apa yang Tuan lakukan.
Salah satu cara agar tetap sadar adalah praktik dzikir, dari waktu ke waktu, menciptakan dan meningkatkan kemampuan Tuan untuk mengatasi berbagai drama hidup.
Leave a Reply