Berjuang menemukan model ideal untuk meraih sukses (tuntas tugas) sejati.
Bak misil pencari panas, dengan kekuatan penuh banyak waktu terburu memenuhi kehendak hati. Bak kura-kura, dengan kepastian santuy sikit waktu terlintas untuk bertindak bijak dan, setelah menetapkan niat, membiarkan segalanya terungkap dengan alami.
Pembelajaran pun berlanjut; pendekatan seimbang.
Terlalu banyak berjuang tak lebih dari berusaha memaksakan hasil, dus mengendalikan takdir. Pernyataan niat saja tanpa dedikasi memajukannya tak lebih dari sikap masa bodoh yang didasarkan pada kebodohan (baca: ketidaktahuan).
Kesabaran, kualitas yang paling sering kita puji pada orang lain dan berharap kita miliki lebih banyak. Seperti sinyal operator yang lemah; kita tahu itu ada, tapi sering kali kita tidak bisa mengandalkannya. Tapi mari kita bicara serius, kesabaran adalah seni menunggu tanpa kehilangan akal sehat, dan itu bukan tugas yang mudah.
Adalah penting untuk menyatakan niat, memperjelas tujuan dan mengambil tindakan untuk mencapainya. Sepanjang jalan, penting juga memegang tujuan dengan longgar agar dengan segera bisa bergeser ke posisi nerimo.
Tantangan terbesar dari kesabaran adalah bahwa itu diuji ketika kita paling tidak ingin menggunakannya. Seperti ketika internet Tuan tiba-tiba putus saat Tuan sedang streaming final pertandingan sepak bola. Atau ketika Tuan sedang menunggu balasan chat dari gebetan, dan tiga titik itu muncul dan menghilang berkali-kali tanpa ada pesan yang terkirim.
Ada koherensi tak masuk akal yang sering terlewatkan dan karenanya berusaha mengendalikan hasil. Dan jika yang terbaik yang dilakukan namun tidak terwujud sesuai dengan kehendak, semua terjadi untuk kebaikan.
Mari sadari kenyataan ini, dan berlatih kesabaran, tidak hanya karena itu membuat kita terlihat bijaksana dan dewasa, tetapi juga karena tidak ada yang suka dengar orang mengeluh tentang betapa tidak sabarnya mereka.
Leave a Reply