• Skip to primary navigation
  • Skip to main content
  • Skip to primary sidebar
  • Skip to footer

(isi)

Insan Sadar Indonesia

  • SIAPA
    • INDIVIDU
    • ORGANISASI
  • MENGAPA
  • BAGAIMANA
    • KERJA MANDIRI
    • KERJASAMA KAMI
  • APA
    • BANGUN KAPASITAS
    • BANGUN MEREK
  • KONTAK
  • DISCLAIMER

The Phrase to Rouse A Crowd: Disjunctions of Living Dead

Mungkin Tuan pernah mengalami ini; merasa harus bertahan, dan ketika dinginnya galau melanda, Tuan menarik selimut, lalu membaca puisi, dengan segera Tuan merasa nyaman.

Laman ini berisi puisi dan sajak terpilih yang mencerminkan perspektif unik tentang bagaimana suatu keadaan terjadi.

  • Chairil Anwar‎: 1943, Aku, Rumahku
  • Friedrich Nietzsche: To the Unknown God
  • Kahlil Gibran: Ambition, God
  • Niccolo Machiavelli: Opportunity
  • Ralph Waldo Emerson: The River
  • Rumi: The Beauty of The Heart
  • Taufiq Ismail‎: 1946 Larut Malam Suara Sebuah Truk
  • William Butler Yeats: A Man Young And Old
  • W. S. Rendra: Aku Tulis Pamplet Ini
  • Yas Bagus: Agama dan Negara, Air Susu Ibu, Azali Ah, Di Batas Antara, Evaluasi, Hadir Saksi, Menunda Waktu, O Seutuhnya, Pengakuan Kebanggaan, Pengantar Tidur, Rupiah, Terjaga, Ular Tangga, Yah Sudahlah Menengah

Membaca puisi atau sajak menyebabkan kita seakan-akan menjangkau dunia lain, dengan beragam hal yang sulit dijelaskan;

Majas meringkik,
metafora mengerik,
imaji melekat ngesot merayap di benak.
Terbawa suasana,
tertahan.
Naluri tak dapat diurai.

Setelah membaca satu dua puisi akan ada kebutuhan Tuan untuk bersajak. Sementara Tuan mencari, pikiran Tuan mengisi kekosongan dengan beberapa kalimat yang mana tanpa sadar puisi telah Tuan ciptakan sendiri.


1943

Chairil Anwar (1943)

Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terbenam
Hilang
Lumpuh.
Lahir
Tegak
Berderak
Rubuh
Runtuh
Mengaum. Mengguruh
Menentang. Menyerang
Kuning
Merah
Hitam
Kering
Tandas
Rata
Rata
Rata
Dunia
Kau
Aku
Terpaku.

Agama dan Negara

Yas Bagus – Berbagi (2009)

Kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia
anugerah Yang Maha Kuasa
Tanah, air dan udara
mampukah kita menjaga dan melestarikannya

Kemiskinan Sumber Daya Manusia
yang jujur dan mulia
ujian dari Yang Maha Memaksa
Berlatihlah saudara keahlian kita untuk menyikapinya

He syukuri kasih sayang Tuhan dengan berbagi kesejahteraan yang merata
jika memang kita umat yang beragama

Bangun jiwa bangun raga, usaha dan doa,
bergotong royong, tenggang rasa tepa selira
jika memang kita warga negara yang merdeka

Pembangunan dari, oleh dan untuk kita,
apa sih yang tak kita bisa
Musyawarah tuk mufakat,
jaminan kita bisa mengungguli bangsa lainnya

Hancuran yang terjadi menimpa kita
akibat ulah tangan-tangan jahil yang merasa
keadilan akhirat tak kan pernah ada
hingga mengingkarinya

Air Susu Ibu

Yas Bagus – Ketemu (2007)

Ada satu bait terurai
tapak dari asyik berahi
mengalir bagai air sungai

Tiada bait pantas melukis
perjuangan, dedikasi
bak lautan menampung teruji

Bulan yang redup
terbelenggu waktu
Meratap ke langit jauh
merindu jamuan susu

Buram rahasia tersembunyi
senyap dari harap kompensasi
membisikkan mimpi,

“Betapa lelah aku saat ini”, tanpa suara wajahmu berperi ketika engkau terlelap entah di mana, Ibu

Aku

Chairil Anwar (1943)

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Aku Tulis Pamplet Ini

W. S. Rendra (1978)

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng-iya-an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.

Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca:
ternyata kita, toh, manusia!

A Man Young And Old

William Butler Yeats

Endure what life God gives and ask no longer span;
Cease to remember the delights of youth, travel-wearied aged man;
Delight becomes death-longing if all longing else be vain.
Even from that delight memory treasures so,
Death, despair, division of families, all entanglements of mankind grow,
As that old wandering beggar and these God-hated children know.
In the long echoing street the laughing dancers throng,
The bride is carried to the bridegroom’s chamber through torchlight and tumultuous song;
I celebrate the silent kiss that ends short life or long.
Never to have lived is best, ancient writers say;
Never to have drawn the breath of life, never to have looked into the eye of day; the second best’s a gay goodnight and quickly turn away.

Ambition

Kahlil Gibran

Three men met at a tavern table. One was a weaver, another a carpenter and the third a ploughman.

Said the weaver, “I sold a fine linen shroud today for two pieces of gold. Let us have all the wine we want.”

“And I,” said the carpenter, “I sold my best coffin. We will have a great roast with the wine.”

“I only dug a grave,” said the ploughman, “but my patron paid me double. Let us have honey cakes too.”

And all that evening the tavern was busy, for they called often for wine and meat and cakes. And they were merry.

And the host rubbed his hands and smiled at his wife; for his guests were spending freely.

When they left the moon was high, and they walked along the road singing and shouting together.

The host and his wife stood in the tavern door and looked after them.

“Ah!” said the wife, “these gentlemen! So freehanded and so gay!
If only they could bring us such luck every day! Then our son need
not be a tavern-keeper and work so hard. We could educate him,
and he could become a priest.”

Azali Ah

Yas Bagus – Ketemu (2007)

Kasih,
kau siram lagi benih rasa nurani
yang dulu kau semai
dan kau tinggal pergi

Seindah cahaya mentari pagi
sinari bunga yang lama layu
kini bersemi kembali

Izinkanlah ku merawatmu
dengan kesederhanaan kasihku
kau tumbuh bersamaku

Azali ah oh azali,
sekali masa kau milikku
kau warnai hari dengan pelangi
Azali ah oh azali,
kini tak lagi membakarku
warnamu memudar mengelabui

[The] Beauty of The Heart

Rumi

The beauty of the heart
is the lasting beauty:
its lips give to drink
of the water of life.
Truly it is the water,
that which pours,
and the one who drinks.
All three become one when
your talisman is shattered.
That oneness you can’t know
by reasoning.

Capitolo L’Occasïone (Opportunity)

Niccolo Machiavelli

“Chi sei tu, che non par donna mortale,
di tanta grazia il ciel t’adorna e dota?
perchè non posi? e erchèa’ piedi hai l’ ale?”
“Io son l’ Occasïone, a pochi nota;
e la cagion che sempre mi travagli
è perchè io tengo un piè sopra una rota.
Volar non è ch’ al mio correr s’ agguagli;
e però l’ ale a’ piedi mi mantengo,
acciò nel corso mio ciascuno abbagli.
Gli sparsi miei capei dinanzi io tengo;
con essi mi ricopro il pette e ’l volto,
perch’ un non mi conosca quando io vengo.
Dietro dal capo ogni capel m’ è tolto,
onde in van si affatica un, se gli avviene
ch’ io l’ abbia trapassato, o s’ io mi volto.”
“Dimmi: chi è colei che teco viene?”
“È Penitenza; e però nota e intendi:
chi non sa prender me, costei ritiene.
E tu, mentre parlando il tempo spendi,
occupato da molti pensier vani,
già non t’ avvedi, lasso! e non comprendi
com’ io ti son fuggita tra le mani!”

Di Batas Antara

Yas Bagus – Ketemu (2007)

Di antara mimpimu
ada tempat singgah kita dulu
yang penuh haru
tak jua tersapu
Di antara gengsimu
kini masih ada ruang lugu
murni senyummu
membuatku tersipu

Selama di batas antara,
pernahkah kau inginkan kembali semula?

Evaluasi

Yas Bagus – Terhubung (2008)

Bergabunglah… He!
Ayolah kita sejenak
menertawakan ketakutan
Nikmati momen sekarang, usah berkhayal
Janganlah merengek dengan kegalauan
Ambillah pelajaran dan bertahan

Bergabunglah… He!
Ayolah kita bertunak
memanfaatkan kekuatan
Jeli melihat peluang, usah berangan
Janganlah mengecam setiap kelemahan
Adakan pengulangan dan tetapkan

Maknai kesempatan
Maksud merentang mendekatkan tujuan, sambutlah!
Dan, jangan biarkan begitu saja
ia lewat di depan mata, raihlah!
Kau tak tahu apa yang kau miliki
hingga kau sadari ia tlah pergi
Bayangkanlah konsekuensi
Kau mengerti, kau pahami, kau terkendali

Pelajari diri, jasmani rohani!
Kokohkan fondasi, hiasi dengan fantasi!
Perkembang, batasi!
Lanjut dan berhenti!

God

Kahlil Gibran

In the ancient days, when the first quiver of speech came to my lips,
I ascended the holy mountain and spoke unto God, saying, “Master,
I am thy slave. Thy hidden will is my law and I shall obey thee
for ever more.”

But God made no answer, and like a mighty tempest passed away.

And after a thousand years I ascended the holy mountain and again
spoke unto God, saying, “Creator, I am thy creation. Out of clay
hast thou fashioned me and to thee I owe mine all.”

And God made no answer, but like a thousand swift wings passed
away.

And after a thousand years I climbed the holy mountain and spoke
unto God again, saying, “Father, I am thy son. In pity and love
thou hast given me birth, and through love and worship I shall
inherit thy kingdom.”

And God made no answer, and like the mist that veils the distant
hills he passed away.

And after a thousand years I climbed the sacred mountain and again
spoke unto God, saying, “My God, my aim and my fulfillment; I am
thy yesterday and thou are my tomorrow. I am thy root in the earth
and thou art my flower in the sky, and together we grow before the
face of the sun.”

Then God leaned over me, and in my ears whispered words of sweetness,
and even as the sea that enfoldeth a brook that runneth down to
her, he enfolded me.

And when I descended to the valleys and the plains God was there
also.

Hadir Saksi

Yas Bagus – Terhubung (2008)

“Dengarkanlah nada gitarku,…”, pintaku, “…Tuhan.”
Satu pengharapan terucap sudah
Bukan caci atau maki atau pujian
Hanyalah hadiah penyambung rasa

“Kasih, bertahanlah!”, kau pekakkan aku,
“Ada tanda kenal di sukma kita
yang mampu menuntun langkah
kaki kita berdua
menuju tanah harapan”

Tuhan hadir mencurahkan berkah-Nya
Nyamankan zahirmu
Tuhan saksi melimpahkan anugerah-Nya
Tentramkan batinmu

“Dengar detak nadi gitarku.”, lagi pintaku
Impian itu terkenang lagi
“Wujudkan, jadikan nyata.”
Tanpa suara, kita bermesra di alam dada

Sayang, kau lembutkan egoku lagi
Ada tanda cinta di hati kita
yang mampu mengentak terbang sayap kita berdua
menuju puncak impian.

1946: Larut Malam Suara Sebuah Truk

Taufiq Ismail (1963)

Sebuah Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’

Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga:
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya?’

Menunda Waktu

Yas Bagus – Berbagi (2009)

Bukalah mata
Miliki setiap detikmu
Milikilah ia lebih banyak lagi
Dan, lagi
Hargai ia setinggi-tingginya
Karena waktu tak kan pernah menunggumu

Buka telinga
Dengarkan suara hatimu
Dengarkanlah ia segera ikuti
Dan, lari
Sadari kau tak kan punya waktu
Kecuali kau sendiri yang menciptakannya

Berhentilah menunda
hal yang dapat kau perbuat di saat ini
hingga kau kira kan tiba waktu yang lebih baik dari saat ini
Berhenti menunda
hingga harga naik
atau hujan reda
atau hingga anakmu dewasa
atau cucumu susahkan mamanya
atau hingga kita tinggalkan dunia
atau hingga kita terlahir kembali

O Seutuhnya

Yas Bagus – Berbagi (2009)

O pernahkah kau alami kehilangan ia yang kau kasihi
Mungkin engkau bisa berlari, tapi kau tak bisa sembunyi dari kenyataan yang ada
O dalam rindu yang menggebu kau menyadari tiada gunanya lagi
Yang berlalu oh biarlah berlalu, ditelan waktu

Kau berbohong!
Kenyataan lainpun bicara, terluka tubuhmu, akalmu, rasamu
Ada yang hilang, jiwamu berlubang
O o o o o
Kini kaupun tak akan pernah seperti dulu lagi

Tolonglah, Tuhan
Tolong beri aku petunjuk di mana dapat kutemukan …?
Di mana bagian yang hilang itu?, atau Engkau kembalikan ia seutuhnya

O haruskah ini terjadi padaku, mengapa..?
Jeritanmu tertahan oleh sesuatu yang memaksamu
O menerima bahwa semua telah berakhir
Semuanya berakhir

O namun janji yang pernah terucap tak kan sirna dalam rasa yang menguat
Walau harus menyaksikan penderitaanmu sendiri kau rela
O pastikan cintamu tak lekang oleh waktu

Omong kosong!
Keadaan lainpun bicara, terluka tubuhmu, akalmu, rasamu
Ada yang hilang, jiwamu berlubang
O o o o o
Kini kaupun tak akan pernah seperti dulu lagi

Tolonglah, Tuhan…
Tolong beri aku petunjuk di mana dapat kutemukan …?
Oh di mana bagian yang hilang itu?, atau Engkau kembalikan ia seutuhnya kepadaku

Pengakuan Kebanggaan

Yas Bagus – Terhubung (2008)

Berjalan di sepanjang lintasan kenyataan, berlomba mengejar zaman
Seriang anak bermain bola di lapangan, barusan kudapat pengakuan yang membanggakan
Secepat gersang terkena hujan
kini pabrik pekerjaanpun kebanjiran
Tiada lagi lowongan

Penyesalan tiba
sisakan kebal rasa
Semuanya kini tak bermakna
dekat dengan putus asa
Segera ingin tinggalkan alam fana
Tak lama lagi kan lahir bayi iblis berwujud manusia

Bermodalkan bulus di akal korbankan budi
Tanpa kasih abaikan harga diri demi sesuap nasi
Tipu sana sini di luar kendali
karena ambisi akan rekognisi

Berjalan di sepanjang lintasan kenyataan, berusaha temukan ruang
Seriang anak bermain boneka di taman, barusan kudapat pengakuan yang membanggakan
Secepat gersang terkena hujan
kini pabrik pekerjaanpun kewalahan
Tiada lagi lowongan

Perlahan kesadaran tumbuh di permukaan semangat yang berserakan
Nak, maafkan aku bapakmu nih yang malang
Menjaga ibu dan saudaramu kau kubanggakan
Pandanglah jauh ke depan
Selami diriku atas kejadian,
kau akan membutuhkan [pengakuan]

Pengantar Tidur

Yas Bagus – Berbagi (2009)

Kau tak kan bisa hentikan ombak di lautan
namun ribuan pulau tetap kau jelajahi
Begitupun kemelut diri pasti datang silih berganti
namun kau kan selalu diiringi solusi
Dengar kata hati dan percaya diri

Kau tak kan bisa hilangkan dahagamu, kawan
bila dengan air garam jiwamu kau suguhi
Begitupun keinginanmu tak akan bisa kau penuhi
bila berambisi tak diiringi kendali
Waspada dan hati-hati

Hidupmu tidaklah tertulis di pasir, kawan
yang dengan mudahnya dapat tersapu riak kecil
Air pasang kan selalu datang tetapkan haluanmu
sampanmu melaju, yakin badai kan berlalu
Selamatlah diri dalam tenang hati

Apa yang kau dapat di senja buta
sebelum mengering seluruh peluh
Satu porsi komisi dan kebohongan diri
menjadi cerita pengantar tidur

[The] River

Ralph Waldo Emerson

And I behold once more
My old familiar haunts; here the blue river,
The same blue wonder that my infant eye
Admired, sage doubting whence the traveller came,—
Whence brought his sunny bubbles ere he washed
The fragrant flag-roots in my father’s fields,
And where thereafter in the world he went.
Look, here he is, unaltered, save that now
He hath broke his banks and flooded all the vales
With his redundant waves.
Here is the rock where, yet a simple child,
I caught with bended pin my earliest fish,
Much triumphing, —and these the fields
Over whose flowers I chased the butterfly,
A blooming hunter of a fairy fine.
And hark! where overhead the ancient crows
Hold their sour conversation in the sky:—
These are the same, but I am not the same,
But wiser than I was, and wise enough
Not to regret the changes, tho’ they cost
Me many a sigh. Oh, call not Nature dumb;
These trees and stones are audible to me,
These idle flowers, that tremble in the wind,
I understand their faery syllables,
And all their sad significance. The wind,
That rustles down the well-known forest road
It hath a sound more eloquent than speech.
The stream, the trees, the grass, the sighing wind,
All of them utter sounds of ’monishment
And grave parental love.
They are not of our race, they seem to say,
And yet have knowledge of our moral race,
And somewhat of majestic sympathy,
Something of pity for the puny clay,
That holds and boasts the immeasurable mind.
I feel as I were welcome to these trees
After long months of weary wandering,
Acknowledged by their hospitable boughs;
They know me as their son, for side by side,
They were coeval with my ancestors,
Adorned with them my country’s primitive times,
And soon may give my dust their funeral shade.

Rumahku

Chairil Anwar (1943)

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.

Rupiah

Yas Bagus – Terbuang (2010)

Malam tadi menyisakan hampa
Kaku jemari dingin pagi menimpa
Bias mata getarkan tanya tentang harap yang terlupa
Hari ini kan jadi milik siapa?

Siapa yang menunggu setia
seiring sinar mentari silaukan jiwa yang belia
jalanan memakan umurnya sia-sia
Benarkah bisa bahagia hanya dengan rupiah?

Siang tadi kelebihan rupa
Jatuh bangun tetangga terik petang menempa
Masuk kiri keluar kanan tentang harga tegur sapa
Hari ini setor ku dapat berapa?

Rupiah, itu semua yang ku mau
Susah payah rampas papa
Rupiah, itu semua yang ku mau
Seberapa besar bedanya, mama?

Terjaga

Yas Bagus (2017)

Kata tersimpan padatkan rasa
membuatku terjaga
Menguak segala asa
membuatku terjaga
Jelajahi angkasa, mencari makna yang mungkin ada
Melampaui tujuan, heningnya cipta
Nyata tetap terjaga

Mata memecut bergelora
membuatku terjaga
Kesadaran terlambat di ujung kala
membuatku terjaga
Melayang bertikar wudhu, tinggalkan ranah fana
Semerbak pengorbanan, mawar di jambangan
Tetap terjaga

Entah ku tak tahu
Tak tahu harus temu
Temu ibu bukannya bertamu
Biarlah rindu ini membatu
Tuk pulang ke hangat pelukanmu

Bersama seribu senyum kau terima
membuatku terjaga
Ambil semua yang kau suka
membuatku terjaga
Logikaku bertanya, membakar kepala ku terpana
Coba pejamkan mata, paksakan terlelap
Ibu, kau tetap ada

To the Unknown God

Friedrich Nietzsche (1864)

Once more, before I move on
and set my sights ahead,
in loneliness I lift my hands up to you,
you to whom I flee,
to whom I, in the deepmost depth of my heart,
solemnly consecrated altars
so that ever
your voice may summon me again.

Deeply graved into those altars
glows the phrase: To The Unknown God.
I am his, although I have, until now,
also lingered amid the unholy mob;
I am his—and I feel the snares
that pull me down in the struggle and,
if I would flee,
compel me yet into his service.

I want to know you, Unknown One,
Who reaches deep into my soul,
Who roams through my life like a storm—
You Unfathomable One, akin to me!
I want to know you, even serve you.

Ular Tangga

Yas Bagus – Ketemu (2007)

Terlarang, cintaku terlarang
Kokoh adat, ku terbuang
Terombang-ambing gelombang
Di dalam lautan bimbang

Terluka rasa mendera
Perihnya tiada terkira
Kucoba hanyutkan derita
Yang tersisa darimu, Tiara

Sekali seumur hidup
Masa depan memanggilku
“Nih, anak tangga untukmu!”
Duh, ia menyumpahku

Merelakanmu, menantikanmu
Ku tak sanggup bayangkan itu
Hingga tiba waktu bersatu
Jiwa raga seutuhnya, Tiara

Dingin ungkapan hatimu, membekukanku
Paham kini maksudmu, mempermainkanku

Yah Sudahlah Menengah

Yas Bagus – Terhubung (2008)

Kini semua terasa adil sudah
Kau rela kisah kita berubah
Usah tanya siapa yang salah
Toh akhirnya kitapun berpisah

Sekali masa kau begitu ramah
Selalu terbuka penuh tawa renyah
Bantu aku agar tak pernah salah langkah
Uh apalagi menyerah

Nah perhatianmu menengadah
Kuhargai keputusanmu mengalah
Tapi aku tak akan merendah
Cukup aku jadi orang menengah

Kini aku miliki satu arah
Tak kan ada lagi berat sebelah
Tak peduli siapa yang lemah
Toh perasaan kita tlah musnah

Sekali masa aku pernah tabah
Tidakkah terbaca ekspresi di wajah
Bantu kendalikan amarah karena masalah
Ah kau begitu serakah

Yah kita pernah tinggal serumah
Sayang bahkan kupanggil dirimu mamah
Tapi aku tak suka kau pongah
Cukup bagimu kena lempar terompah


Tuan dapat menutup laman ini, tetapi tidak akan mudah berkata pada diri Tuan sendiri, “Dah, cukup. Ceritanya tamat”, karena tadi Tuan akan berpuisi, dan menyertakannya dalam percakapan Tuan berikutnya. Semoga bermanfaat.

Reader Interactions

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Primary Sidebar

Footer

Insan Sadar Indonesia (isi)

: para pencinta
yang sadar akan kondisi,
bermitra dengan individu dan/atau organisasi
guna membayangkan peluang
yang dapat menyelaraskan tujuan bermakna sebuah merek
dengan dampak positif.

Copyright © 2026 (isi) by Genesis Framework