Banyak dari kita menjalani hidup tanpa keyakinan akan apa yang ingin kita lakukan, kejelasan siapa kita sekarang, atau siapa kita di masa depan. Jarang sekali kita meluangkan waktu untuk mendapatkan kejelasan ini. Hasilnya adalah kita menjalani hidup ikut ke mana pun angin berhembus dan seringkali berakhir dengan penyesalan. Atau mungkin itu hanya hamba sendiri.
Hal yang menarik terjadi ketika hamba merenungkan kematian hamba sendiri: segalanya menjadi sangat jelas, apa alasan keberadaan hamba di sini, di dunia ini.
Tuan pun dapat merenungkan kematian Tuan sendiri. Dengan merenungkan fananya diri, Tuan dapat memperoleh perspektif yang dapat membantu Tuan memutuskan apa yang harus Tuan lakukan dengan kehidupkan ini. Meluangkan waktu untuk merenungkan kematian Tuan sendiri, bahkan melakukan sesuatu yang gila seperti menulis pidato eulogi sendiri, dapat memberi Tuan rasa urgensi untuk menggerakkan Tuan bertindak mengikuti suara hati.
Bayangkan pemakaman Tuan sendiri. Membayangkan bagaimana rasanya ketika tubuh Tuan terbaring kaku tak bernyawa ketika dimasukkan ke dalam tanah kuburan, sementara keluarga, teman-teman, tetangga berdiri di atas liang lahad Tuan, layak direnungkan. Akankah mereka memikirkan segala macam aspek kehidupan selama hidup Tuan dan mungkin juga mereka membayangkan seperti apa hidup mereka tanpa Tuan.
Bayangkan pemakaman Tuan dan setiap aspek kehidupan Tuan, rumah Tuan, pekerjaan Tuan dan orang-orang yang Tuan sayangi, apa yang mereka rasakan, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap kematian Tuan. Bayangkan apa yang akan terjadi dengan kepergian Tuan.
Nah, bagaimana rasanya mati dan menghadiri pemakaman Tuan sendiri? Tuan tahu siapa saja yang ada di sana? Berapa banyak orang yang datang? Apakah wanita yang menolak cinta Tuan hatinya akan hancur dan akhirnya menyadari betapa hebatnya Tuan? Akankah seseorang yang Tuan duga membenci Tuan secara mengejutkan ikut hadir di pemakaman itu?
Dan tentu saja hal yang harus ditanyakan adalah: “Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang saya?”, “Apa yang akan diingat mereka tentang hidup saya?” Dan, “Kini, bagaimana saya bisa memperlakukan mereka?”
Hari ini kita akan mengambil renungan imajiner ini satu langkah lebih jauh, menulis pidato eulogi kita sendiri. Eulogi adalah ucapan atau tulisan untuk menghormati seseorang terutama yang sudah meninggal dunia. Secara umum cerminan kehidupan orang itu dan prestasi yang mereka capai. Orang seperti apa mereka, apa yang mereka lakukan untuk orang lain, pelajaran apa yang yang dapat diambil dari orang yang telah meninggal tersebut, dan nilai-nilai apa yang diwariskan mereka dan harus Tuan abadikan.
Ingat, kita tidak dapat menyangkal fakta yang pasti akan terjadi, meninggal dunia. Semua orang menghadapi ajal dari waktu ke waktu. Mengakui fakta ini dapat membantu kita berkonsentrasi untuk hidup setiap hari dengan tujuan. Bahkan jika kita hidup sampai usia tujuh puluh tahun, hari itu akan tiba lebih cepat dari yang kita bayangkan. Hidup ini singkat, raih hari ini!
MENULIS EULOGI TUAN SENDIRI
Hamba tidak berpengalaman menulis pidato. Namun berikut ini beberapa pedoman dasar membuat eulogi Tuan yang sederhana dan mudah.
Jenis pidato yang paling mudah ditulis adalah yang berdasarkan kronologis. Mulailah dari awal kehidupan Tuan, tempat tinggal, pendidikan, perkawinan, kehidupan rumah tangga, anak-anak, karier, prestasi Tuan dsb.
Tulis garis besar
Duduk dan bayangkan Tuan hidup sampai usia tujuh puluh tahun, kemudian meninggal. Sekarang bayangkan apa yang Tuan lakukan selama tujuh dekade kehidupan Tuan. Di mana Tuan tinggal, siapa yang Tuan cintai, bagaimana Tuan berperilaku. Ini adalah hidup Tuan bagaimana Tuan berharap menjalaninya. Catat beberapa kenangan tentang diri Tuan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut.
- Di mana Tuan tinggal? Apakah Tuan tinggal di kota tempat dilahirkan? Apakah Tuan tinggal di negeri yang jauh? Apakah Tuan pindah setiap beberapa tahun? Di mana Tuan pensiun?
- Apa hobi Tuan? Apa yang Tuan sukai di usia 20-an dan 30-an? Apa yang Tuan sukai dengan keluarga Tuan? Kegiatan apa yang membuat Tuan sibuk?
- Hubungan seperti apa yang Tuan miliki? Apakah Tuan sudah menikah? Berapa anak yang Tuan miliki? Berapa banyak teman yang Tuan miliki? Banyak? Ada berapa teman yang benar-benar mendukung Tuan?
- Di mana Tuan bersekolah? Apa saja yang Tuan pelajari? Yang mana yang paling Tuan sukai?
- Apa pekerjaan Tuan? Apakah Tuan menetap di satu perusahaan atau apakah Tuan berganti karier berkali-kali?
- Apakah Tuan memenangkan penghargaan atau mencapai prestasi yang patut dicatat?
- Apa yang paling berkesan tentang Tuan? Selera humor Tuan? Masakan lezat Tuan? Hobi Tuan yang tak pernah puas dengan petualangan? Gairah Tuan untuk alam bebas? Iman Tuan yang tak tergoyahkan?
- Apa yang paling dikagumi orang-orang dari Tuan? Loyalitas Tuan yang tak tergoyahkan pada teman? Kejujuran Tuan? Etos kerja Tuan? Cinta Tuan kepada keluarga? Kesabaran Tuan? Kepemimpinan Tuan?
- Apa yang akan sangat dirindukan orang-orang tentang Tuan? Pakaian baru yang Tuan berikan? Bahwa Tuan seorang pendengar yang baik? Tulisan tangan yang Tuan kirim ke teman? Cara Tuan mengubah setiap kekonyolan menjadi sesuatu untuk ditertawakan?
Ubah garis besar di atas menjadi pidato
Sekarang Tuan harus mengambil garis besar yang baru saja Tuan catat dan menyatukannya menjadi sebuah pidato yang sederhana.
- Kelahiran dan masa kecil. Jaga agar bagian ini cukup singkat.
- Pendidikan dan karier. Di mana Tuan bersekolah, jurusan apa yang Tuan ambil, pekerjaan apa yang Tuan miliki. Sertakan penghargaan yang Tuan menangkan atau prestasi yang Tuan buat.
- Kehidupan keluarga dan rumah tangga.
- Hobi dan minat Tuan.
- Kualitas dan karakteristik yang membedakan Tuan dari orang lain, dan membuat Tuan mengesankan.
- Apa yang akan dirindukan orang-orang tentang Tuan.
Pidato Tuan tidak harus menjadi sebuah perpustakaan. Tekankan pada titik tertinggi dalam hidup Tuan, hal-hal yang sangat penting.
Hadapi kefanaan Tuan, dan pikirkan bagaimana [nama] Tuan ingin diingat. Tuan tidak harus mengikuti cara yang ada dalam catatan ini, kreatiflah. Berikut contoh pidato eulogi yang hamba buat:
Rosliani: Meraih Hari
Rosliani adalah orang Sunda asli. Ia dilahirkan di Tasikmalaya pada tahun 1946, dan ia tidak benar-benar pergi. Bahkan meskipun ia seringkali menyanyikan lagu berbahasa Inggris, dan berinteraksi dengan orang-orang dari banyak negara, Rosliani suka mengajarkan bahasa Sunda kepada tamu-tamu dari luar negeri. Ia juga suka bepergian ke luar kota, terutama berkunjung ke keluarga besarnya dan berinvestasi di properti, namun ia selalu pulang ke Ciamis. Ternyata hobinya traveling karena Rosliani tumbuh di Bandung dan menunjukkan minat untuk berpetualang sejak masa pertumbuhannya berkeliling di seluruh pelosok kota itu. Bagaimana pun kesukaan pada kota-kota yang dikunjunginya, ia berkata bahwa Ciamis ada dalam darahnya, dan tidak pernah ada keraguan tentang di mana masa tuanya akan dihabiskan.
Rosliani kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati. Ia seorang idealis yang percaya bahwa satu orang dapat mengubah dunia. Dan bahwa pendidikan sebagai sebuah kendaraan orang-orang untuk terwujudnya cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Membaca adalah hobi yang ingin dicurahkan kepada orang-orang sekitarnya, bukan hanya buku pelajaran, tetapi juga komik-komik mahabrata ia sediakan. Dan adalah karyanya dalam kapasitas ini yang menjadi kebanggaan keluarganya kisah tentang menggagas pendidikan usia dini di kampung halamannya.
Sementara Rosliani mencintai pekerjaannya, ia lebih mencintai keluarganya. Rosliani menikah dengan Abdul Gaos, pemuda pujaannya, pada tahun 1969. Mereka sangat dekat dan saling mencinta seperti pasangan romantis mana pun yang pernah saya saksikan. Abdul Gaos pernah berkata, “Tidak ada dusta di antara kita”. Begitulah perjalanan rumah tangganya menjadi contoh bagi anak-anaknya.
Rosliani dikaruniai sepuluh anak yang sholeh sholehah, Teteh, Ndeu, Dede, Ccp, Pipit, Ndan, Uut, Onjon, Emon dan Etin. Selain mengasuh anak-anaknya, kesibukan sehari-harinya mengurus orang lain. Namun tak peduli seberapa sibuk pekerjaannya, Rosliani selalu ada untuk mereka. Ia mengagumi dan mensyukuri kecerdasan anak-anaknya. Dan dari semua prestasi hebat yang diperoleh selama hidupnya, Rosliani paling bangga pada orang-orang hebat yang ternyata adalah anak-anaknya.
Rosliani, bersama keluarganya menetap di sebuah kampung yang bisa dibilang terpencil, namun ia tidak pernah melepaskan gairah berpetualangnya. Tempat-tempat yang ia kunjungi terlalu banyak untuk disebutkan oleh anak cucunya, dan bahkan oleh orang-orang yang pernah diajak bepergian olehnya. Ia ingin memperlihatkan berbagai seni dan budaya yang berbeda dan menumbuhkan kesadaran anak cucunya bahwa dunia ini luas, dan ia cukup berhasil melakukannya. Bersama-sama, mereka bertemu dengan banyak orang, berkemah di pegunungan, menunggang kuda dan gajah, naik turun lift departemen store di beragam kota, berenang di banyak pantai, makan minum aneka menu daerah dan masih banyak petualangan lainnya. Rosliani memiliki daftar panjang aktivitas yang ingin ia capai, mendukung semua anak-anaknya tumbuh dan berkembang, dan orang-orang lainnya maju dan menang, dan ia melakukan semuanya tanpa rasa lelah. Apa pun kemandekan seseorang, tak peduli seberapa sibuknya Rosliani, ia meninggalkan segalanya untuk mendukung dan membantu mereka, mengeluarkan mereka dari kesusahan dan menggantinya dengan kegembiraan.
Menghancurkan dukacita, menciptakan sukacita. Mudah-mudahan saya segera menemukan jalan menuju kegagalan. Dengan demikian saya dapat menjalani nilai-nilai yang pernah dicontohkan olehnya. Bukan sebatas empati, tapi peduli.
Saya dapat dengan tegas mengatakan bahwa Rosliani adalah wanita ideal yang saya kenal. Bagaimana perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan memotivasi saya berbuat yang sama, dan menjaga rasa syukur sehingga saya selalu menyertakan namanya di dalam doa-doa saya. Saya menyaksikan bagaimana ia menggabungkan sikap ‘raih harimu!’ dengan kesetiaan kepada keluarganya, sekaligus profesionalisme yang tidak ternoda di tempat kerja, tempat rehabilitasi, membina orang-orang yang menyalahgunakan narkotika. Rosliani beristilah Narkotika dengan ‘Negara akan Runtuh kalau Orang-orangnya Tidak Ingat kepada Alloh’. Sebuah pemikiran yang luar biasa. Dan semua yang dilakukan Rosliani, ia lakukan dengan integritas. Melalui pekerjaan ini, Rosliani mendapat penghargaan Honorary Police dan Kartini Indonesia 2010.
Saya kehilangan banyak hal tentang Rosliani. Saya merindukan pelukannya yang lembut dan hangat, melebihi pelukan kekasih saya. Saya merindukan kue kering buatannya untuk para tamu yang saya diam-diam colong, atau sirup orson jadul yang botolnya pernah saya jatuhkan menyejukkan teriknya siang ketika pulang sekolah. Saya merindukan optimismenya yang tak kunjung padam. Tiada hari yang buruk bagi Rosliani, semua hari adalah hari yang baik, dan semua tantangan harus dihadapi. Saya merindukan senar gitar yang ia berikan yang sepertinya ia selalu tahu apa yang akan saya sukai. Saya merindukan cara iia berfoto di depan rumah hasil kerja kerasnya dengan senyum kekanak-kanakannya. Yang terpenting, saya rindu menyaksikan betapa berlimpah hidupnya. Setiap kali saya bersamanya, entah bagaimana saya merasa lebih hidup. Sekarang setelah ia pergi, saya tidak bisa merasakannya secara langsung lagi, namun nilai-nilai warisannya terus memacu saya untuk meraih hari.
Leave a Reply