Akhir tahun! Resolusi? Tahun baru! Resolusi?
Selamat. Semoga berhasil dengan resolusi Tuan, dan sepanjang tahun Tuan menyenangkan! Hamba do’akan, karena ketika Tuan berusaha memenuhinya, kebanyakan resolusi saling bertentangan. Setidaknya itulah yang hamba dengar. Ya itulah, kebanyakan cerita tentang resolusi saling bertentangan.
Yang satu mengatakan berhasil, yang lain menuturkan resolusi gagal jauh sebelum impian pertama terpenuhi. Karenanya kita cukup membuat perubahan dengan bobot kecil, dan boleh diperbesar secara bertahap satu per satu sambil melihat kemajuannya. Ada juga yang membual, ini hamba kagumi, kita justru harus menyertakan cakupan semua hal yang ambisius, karena terlalu banyak waktu terbuang juga hanya akan menyisakan penyesalan.
Sebagian mengabarkan kita mesti memberitahu orang lain secara mereka membantu kita memantau keberlangsungan pencapaiannya. Sebagian yang lain berbisik kita mesti menjaganya tanpa diketahui orang lain dan memenuhi resolusi dengan tenang. Ada juga yang berceloteh kita mesti lebih sering membuat resolusi bukan setahun sekali, akan tetapi katakanlah per tiga bulan sekali. Yang lain menyarankan bahkan sama sekali kita tak perlu repot menetapkan semua yang ingin kita ubah.
Demikian beberapa pemikiran yang mewakili batas tak terhingga bila kita mau membahas bahkan satu saja isu yang sama.
KEBULATAN TEKAD
Terlepas dari kecenderungan Tuan pada pendapat siapa yang Tuan setujui atau pendekatan mana yang akan Tuan tempuh, tujuan resolusi adalah meningkatnya standar hidup di tahun mendatang. Dan kalaupun Tuan memutuskan untuk membuat resolusi, sertakan kesadaran bahwa prosesnya tergantung pada kebulatan tekad Tuan.
“Sesungguhnya sahnya suatu perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang tergantung pada apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Alloh dan Rosul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk dunia yang ingin diperolehnya atau untuk wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada yang ia hijrahkan.” Abah Aos – Fadhoilusy Syuhur
Niat adalah bermaksud mengerjakan sesuatu diiringi dengan langkah peragaan. Niat tempatnya di hati. Melisankan niat hukumnya sunnah. Jika hati dan lisan berselisih, maka yang dinilai adalah hatinya. Tuan berniat wudhu di hati, serta lisan berkumur, sahlah wudhu. Apabila di lisan Tuan berniat sholat, sedangkan di hati tidak, maka yang sah itu yang ada di hati, apapun isi hati Tuan.
Lately everybody’s thinkin’
Me, my, only I thinkin’ for me.
Here lately, everbody’s talkin’, baby.
But we all know that talk is cheap.
Tesla – Stir It Up
Yang lebih utama Tuan berniat dengan lisan dan hati secara bersamaan. Oleh karena itu tidaklah cukup dengan lisan saja tanpa diiringi hati, karena sesungguhnya Alloh tidak melihat jasad, tetapi melihat hati Tuan. Keberadaan hati untuk menyaksikan Sang Pencipta dan jasad untuk menyaksikan ciptaan-Nya.
MENATA PIKIRAN
Pertama, pastikan bahwa pikiran Tuan terstruktur [dengan benar]. Ini bisa terpenuhi melalui kesadaran dan latihan. Semestinya Tuan tidak berharap, hanya dengan membuat resolusi, tiba-tiba dapat melakukan sesuatu yang belum pernah Tuan lakukan. Sebaliknya, Tuan harus terlebih dahulu meluangkan waktu untuk mendapatkan pikiran ke formatnya yang tepat. Akan membantu bila Tuan memperjelas alasan Tuan mempertahankan resolusi Tuan, Tuan perjelas juga kekuatan motivasi dan hasrat lain yang mungkin bertentangan dengan resolusi itu.
Berkaitan dengan pikiran yang terstruktur dengan benar adalah cara Tuan mengolah pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan tentang pengendalian dan perubahan [yang mana tak dapat dihindari], bahwa terdapat bagian [mana dari] kehidupan yang berada di dalam kendali Tuan sehingga dapat Tuan ubah, dan yang berada di luar kendali Tuan yang mana tidak begitu saja dapat Tuan ubah.
Kebahagiaan datang dari hal ihwal yang dapat Tuan kendalikan. Tuan menderita karena tidak menerima keadaan yang tidak dapat Tuan kendalikan, atau berpikir bahwa Tuan dapat mengendalikan hasilnya. Ini jelas pikiran yang berantakan.
Sederhana, Tuan mesti memusatkan perhatian pada bagian-bagian mana yang dapat Tuan kendalikan, dan mengesampingkan proses [atau menerima] yang tidak dapat Tuan kendalikan.
Faktanya, usaha yang dilakukan kebanyakan orang bukan untuk mengubah bagian kehidupan yang berada di bawah kendali mereka; alih-alih, mereka mencoba mengendalikan atau mengubah segalanya. Ini cukup sebagai resep untuk terjadinya bencana alam makro.
Pekerjaan utama dalam thoriqoh berada dalam kendali Tuan. Dengan begitu sesungguhnya ini aktivitas yang paling riil untuk dilakukan, karena dalam praktiknya tidak melibatkan orang lain, dan Tuan dapat serta merta mengukur keluarannya.
“Thoriqoh shufiyah 1) mendahulukan mujahadah (mengendalikan nafsu), 2) menghapus sifat-sifat tercela, 3) memutuskan hubungan dengan makhluk seluruhnya untuk bertawajjuh dengan tekad yang bulat kepada Alloh Ta’ala. Abah Anom – Miftahush Shudur
MENYEBARKAN KEBAJIKAN
Kedua, menyebarkan kebajikan. Ini juga berada di bawah kendali Tuan. Untuk mengingatkan, setiap target spesifik berkenaan dengan hasil yang ingin Tuan raih besar kemungkinan dihancurkan oleh hal-hal di luar kendali Tuan. Mengerahkan upaya pada tindakan lebih lanjut pada kebiasaan mesti menjadi fokus utama Tuan. Sifat-sifat tercela akan terhapus dengan sendirinya ketika Tuan berbuat kebajikan (Sembilan Pilar Peradaban Dunia).
EVALUASI DIRI
Ketiga, bahwa resolusi dapat jauh lebih dari sekadar latihan yang tidak realistis dalam menetapkan target untuk diri Tuan. Resolusi bisa menjadi evaluasi tentang apa dan mana yang benar-benar penting dan mengarahkan perhatian Tuan terhadapnya. Demikian, tidak melanjutkan resolusi [karena berubahnya keadaan] bukan masalah lemahnya Tuan mengendalikan situasi, tetapi kuatnya kehendak dari luar diri, yang menarik Tuan pada keadaan terputusnya hubungan bahkan dengan diri Tuan sendiri. Ini terjadi setelah Tuan menyadari panggilan dari balik bintang untuk memilih kepentingan yang jauh lebih tinggi ketika resolusi sedang berjalan ketimbang kepentingan sebelumnya.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertakwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Q.S. Al-Hasyr : 18-19
Sama pentingnya mengetahui keberadaan hal ihwal yang tidak dapat kita ubah (berada di luar kendali) sekeras apa pun usaha kita.
MEMAAFKAN ORANG YANG BERBUAT ANIAYA
Pertama, bahwa kita semua pernah terlukai oleh sesama. Luka ini sering kali meninggalkan dendam kesumat. Tuan tidak dapat mengubah yang telah terjadi. Bahkan jika Tuan [memenuhi hasrat] membalas dendam, tidak mungkin dapat mengembalikan waktu, membatalkan keadaan atau menyembuhkan luka, malah dapat menambah luka baru baik di pihak Tuan maupun pihak lain. Kebencian hanya akan membebani Tuan dan menghijab kebahagiaan. Karenanya mau tidak mau Tuan mesti memaafkan, menerima yang telah terjadi, mengambil hikmah, mengesampingkan dan memusatkan perhatian pada hal yang berada di bawah kendali Tuan.
MEMBUAT ORANG LAIN MENCINTAI TUAN
Kedua, tanpa terbatas pada kisah romantis, terkadang kita menunjukkan cinta terhadap seseorang dengan harapan mendapat balasan yang [setidaknya] sama. Kalau tidak mau dibilang mustahil, kecil kemungkinan Tuan dapat mengubah mereka atau membuat mereka mencintai Tuan. Tuan dapat berusaha mengirimkan kata-kata indah, memberi mereka mawar, menyenangkan mereka dengan segala cara, menghabiskan waktu dan energi sampai remuk hati Tuan menunjukkan keunggulan diri, Tuan tidak dapat begitu saja membuat mereka mencintai Tuan. Meskipun demikian, Tuan tetap berusaha sekuat tenaga.
Sejauh ini pertentangan resolusi dapat disepahamkan; yang mana keluarannya berada di bawah kendali Tuan karenanya mudah dan saat ini pun dapat Tuan lakukan, dan juga karena sesungguhnya orang-orang ini membutuhkan kasih sayang [Tuan]; kudu asih ka jalma nu mikangewa ka maneh.
Leave a Reply