Membahas tawaduk bukan hanya tentang menahan diri dari keinginan berlebihan, tetapi juga tentang menemukan kedamaian dalam kesederhanaan. Tawaduk berasal dari bahasa Arab yang berarti rendah hati atau bersikap sederhana, sikap di mana kita menghargai apa yang kita miliki. Bukan tentang kemiskinan dan bukan pula tentang tidak boleh ada keinginan. Terutama di dunia yang serba konsumtif, tawaduk menjadi semakin relevan. Bukankah Tuan sering terjebak dalam keinginan untuk memiliki lebih banyak. Tuan tergoda oleh tren dan pengikutnya; iklan-iklan dan iklan. Pertimbangkan apakah Tuan benar-benar membutuhkannya sebelum membeli.

Agama memastikan tawaduk sebagai nilai yang mulia. Hamba diajarkan untuk menerima yang ada dan tidak terikat pada materi. Ini mengarah pada ketenangan batin: ketika hamba tidak terikat pada materi, hamba merasa tenang. Dalam hubungan sosial: tawaduk mengajarkan hamba untuk berbagi dan peduli pada orang lain. Mari sama-sama praktikkan, kalau tidak berhenti, kurangi konsumsi barang-barang yang tidak kita gunakan. Atau memberikan barang yang tidak kita perlukan kepada orang lain yang membutuhkan.
Bahkan tawaduk juga mendorong hubungan yang baik dengan orang lain. Bagaimana tidak, tawaduk melibatkan rasa hormat kepada orang lain, apalagi jika orang itu memiliki lebih banyak pengalaman atau pengetahuan yang lebih luas daripada kita. Termasuk memberikan perhatian dan kasih sayang kepada mereka yang lebih muda atau memiliki status sosial yang kita anggap lebih rendah daripada kita. Lebih-lebih tawaduk mengajarkan kita menghargai pandangan orang lain, bahkan jika kita tidak selalu setuju.
Leave a Reply