And so virus kecil berdampak besar ini adalah musuh bersama —bagi yang menganggapnya begitu— yang kita butuhkan sebagai umat manusia untuk membangkitkan semangat kemurahan hati kita, untuk saling melihat bukan sebagai musuh, tetapi sebagai orang-orang yang sama berjuang menjaga keberlanjutan peradaban.
Dan jika si kecil ini berfungsi menyatukan kita, lebih mendekatkan negara-negara, bahkan agama-agama, dan sejauh mana para dokter berjibaku, para peneliti medis berkolaborasi, tidakkah luar biasa menyaksikan kemampuan manusia, kebersamaan, ketika dituntut menghadapi musuh yang sama, seperti nenek moyang kita pergi ke garis depan untuk berperang, mereka tidak mengeluh.
Hamba dituntut tinggal di rumah, tak jadi masalah, karena selama ini hamba mesti terbiasa melihat jauh ke dalam lubuk qolbu, dan menetap di sana.
Bukankah ini sebuah karunia, memungkinkan kita berjeda, dan menyelami mana yang penting, berhenti sejenak dan merenung tentang keberadaan kita, di mana kita dan ke mana kita pergi. Berpikir tentang hal baik, dan cara mendapatkan lebih banyak kebaikan. Memeriksa hal-hal yang harus diubah dalam hidup, dan bagaimana mulai membuat perubahan itu.
Tuan ingin menulis buku? Sekaranglah saatnya, bayangkan satu saja kalimat, lalu tulis dan kembangkan. Jika Tuan seorang pelukis yang sudah lama tidak menggambar, sekaranglah saatnya. Jika dulu Tuan main monopoli namun lupa caranya, sekaranglah saatnya bermain bersama anggota keluarga. Jangan lupa ambil wudhu dulu, karena itu nilai agama.
Jika Tuan punya menu pilihan yang sudah lama berada dalam catatan resep Tuan, masaklah sekarang juga lalu sajikan kepada suami tercinta. Jika Tuan ingat lagu jadul anak-anak yang Tuan senangi, sekaranglah saatnya bernyanyi bersama anak cucu Tuan. Semua hal yang menghibur, semua hal yang positif. Sekarang saatnya nyetel ngaji Al-Qur’an di youtube, atau hanya menikmati udara bersih yang tidak tercemar oleh lalu lalang mobil.
Saatnya refresh kemanusiaan kita, yang memungkinkan kita merenungkan hal-hal penting, untuk memastikan bahwa kita siap untuk setiap krisis yang mungkin datang. Ambil langkah menanam benih hari ini untuk Tuan panen di masa yang akan datang, dalam setahun, dalam lima tahun, dalam sepuluh tahun dst.
Moga krisis ini tidak berlalu begitu saja, dan berubah ke keadaan yang lebih baik.
Hamba harap Tuan, saudara-saudaraku, baik-baik saja. Hamba harap Tuan mencuci tangan dengan teratur, cara apa lagi kalau bukan dengan berwudhu. Hamba harap Tuan menjaga orang-orang terdekat Tuan dan melindungi mereka yang rentan di sekitar Tuan.
Secukupnya santap sayuran bernutrisi, juga minuman plus vitamin. Hentikan konsumsi berita negatif. Perhatikan banyak hal positif yang perlu diketahui. Selalu ada hal baik, pun dari jeda ini, pun tentang keadaan Indonesia. Dan social distancing bukanlah jarak sosial, tetapi jarak fisik. Jadi kita hanya menjaga jarak fisik. And so since our love has no distance, tetaplah terhubung dengan baik.
Leave a Reply