Dalam beberapa jam mendatang kita akan memenuhi panggilan Alloh untuk memperingati dan merayakan momentum Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita patut bersyukur kepada Alloh SWT, bahwa dengan pengorbanan darah dan nyawa oleh para pejuang bangsa selama 350 tahun[?], akhirnya kemerdekaan Indonesia berhasil diplokramasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta 72 tahun yang lalu. Sepatutnya, kita sebagai penerus perjuangan bangsa menyampaikan penghormatan yang setinggi-tingginya atas perjuangan para pahlawan bagi kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini.
Sebagai sebuah bangsa yang besar, kita menyadari bahwa bangsa kita terdiri dari masyarakat yang majemuk. Kemajemukan ini diwarnai oleh keragaman adat-istiadat, suku, ras dan agama serta bahasa. Pada satu sisi, kemajemukan merupakan kondisi ideal bagi terciptanya bangsa yang kuat, namun di sisi lain, kemajemukan juga mengandung berbagai kerawanan konflik kepentingan, jika kita tidak mampu mengelola keragaman tersebut dengan arif dan bijaksana. Untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan bangsa Indonesia, maka pemahaman dan penerapan 4 Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika) di tengah keragaman menjadi keharusan. Semua upaya harus kita lakukan dengan mengedepankan prinsip kebersamaan tanpa mengorbankan keberagaman.
Salah satu upaya memelihara damainya negeri ini yang penuh nuansa kebersamaan di tengah keberagaman tersebut, adalah ketaatan setiap individu warga negara terhadap Alloh SWT yang terdapat dalam perintah agama dan negara.
Dalam rangka mensyukuri kemerdekaan ini juga, sepatutnya kita menemui orang-orang yang telah berjasa selama ini terhadap agama dan negara, dan berterima kasih atas jasa-jasa mereka.
“Bersyukurlah kepadaKu niscaya Aku tambah nikmat kepadamu. Kalau kamu kufur, sesungguhnya azabKu sangat pedih.”
Jika kita perhatikan, masih saja terjadi krisis, dari krisis hoax sampai krisis garam, dapat disimpulkan bahwa bangsa ini tidak mensyukuri nikmat. Akhirnya Alloh SWT menurunkan berbagai kesulitan dan kerusuhan kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ingatlah, syukur itu bukan kepada Alloh saja, kepada manusia yang sudah memberikan kebaikan pun kita wajib bersyukur. Apakah selama ini kita sudah melupakan jasa orang-orang yang telah membangun negeri ini dengan susah payah?
Sekecil apapun kebaikan orang lain harus kita hargai
Perhatikan firman Alloh SWT dalam al Qur’an surat al Zaljalah ayat 7 dan 8. Seberat zarah pun akan tetap diperhitungkan.
Perlu diperhatikan juga, bagi orang-orang tertentu adanya krisis ini bisa merupakan kifarat bagi kesalahan-kesalahan, bahkan bisa juga merupakan sarana untuk meningkatkan derajat tergantung dari upaya setiap individu untuk berhijrah dari jalan buruk menuju jalan Alloh.

Apa yang harus kita lakukan agar bangsa ini dikeluarkan dari krisis?
Hanya tiga jawabannya.
Pertama, Introspeksi Diri
Terapkan firman Alloh SWT surat al Anbiya ayat 87 ke dalam diri tiap orang yang mengaku bagian dari Bangsa Indonesia.
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
Alloh SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Q.S. Al Hujurot : 12)
Rosululloh Saw bersabda: “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Diriwayatkan oleh Bukhori hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563
Perhatikan juga hadist Nabi Saw di bawah ini:
Sabda Rosululloh Saw: “Alangkah bahagianya orang yang sibuk memperhatikan kekurangan dirinya daripada melihat kekurangan orang lain.”
Amirul Mukminin Umar bin Khoththob ra berkata:
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.” (Rifqon Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, halaman 10)
Memperhatikan firman Alloh SWT dan sabda Rosulluloh Saw serta perkataan Umar bin Khoththob di atas, kita harus mengubah orientasi sikap yang selama ini kebanyakan kita anut. Banyaklah introspeksi, nyatakan bahwa diri sendirilah yang zalim, sehingga kita tidak akan sempat lagi untuk mengorek-orek kesalahan orang lain. Nabi Yunus as pun seorang yang menjadi Nabi dan Rosul tidak menyalahkan orang lain walaupun jelas yang membangkang kepadanya adalah orang lain.
Mungkinkah Nabi Yunus berbuat zalim? Bukankah Nabi dan Rosul itu diutus Alloh untuk menjadi uswah hasanah? Mengapa pula berani menyalahkan orang lain? Mengapa lupa kesalahan diri sendiri? Atau merasa diri kita paling benar?
Camkan baik-baik. Catat dalam lubuk hati yang paling dalam. Selama kita menyalahkan orang lain dan lupa kesalahan diri sendiri, pasti tidak dapat keluar dari kegelapan. Seorang Nabi saja bisa keluar dari perut ikan Nun itu karena dengan menyatakan rasa yang mendalam kepada Alloh bahwa yang salah bukan mereka, tapi aku.
Sekarang apa yang terjadi? Kalangan ulama dan cendekia saja sudah banyak yang menggiring pengikutnya untuk bertolak belakang dengan apa yang dicontohkan Alloh melalui Nabi Yunus. Apalagi orang yang bodoh. Pantas saja selalu ada krisis yang tidak ketahuan titik terang kapan akan berakhirnya.
Kedua, Bertobat
Yang dimaksud tobat di sini bukan sekedar acara seremonial belaka. Kumpul ramai-ramai di tempat terbuka, lalu mencucurkan air mata bersama-sama. Tetapi esensi yang sebenarnya adalah menghentikan semua kesalahan yang diperbuat.
Ketiga, Dzikrulloh
Ingat, yang bisa menghentikan segala perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan agama dan negara itu hanyalah dzikrulloh (ingat kepada Alloh). Hanya dengan memperbanyak ucapan Laa ilaaha illallooh yang akan mampu meredam semua kebusukan-kebusukan hati yang dibisikan oleh musuh yang paling nyata yaitu syetan.
Bukan berandai-andai, tetapi pasti.
Dengan introspeksi diri, bertobat dan dzikrulloh sebagai senjata paling ampuh seorang muslim, persoalan kompleks bangsa akan berakhir. Tinggal kembali kepada diri kita masing-masing inginkah kita menjadikan negeri ini aman, tentram, damai dan rakyatnya sejahtera?
Mari kita renungkan sendiri sendiri. Dan cepat bersikap, kerja bersama. Sebelum azab Alloh ditimpakan kepada negeri tercinta ini.
Apabila amalan terpuji di atas mampu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka Alloh SWT akan mengangkat dan menempatkan kita pada barisan manusia yang dicintaiNya dan akan diberikan kemudahan hidup di dunia. Dengan begitu, akan terasa dampaknya bagi bangsa ini, Alloh SWT akan mengangkat dan menempatkan bangsa ini pada barisan bangsa-bangsa yang diberikan kemudahan dalam menyelesaikan problem-problem kebangsaan, bahkan bangsa kita akan diberikan jalan keluar dari berbagai kesulitan serta diberikan kemakmuran yang berlimpah pula.
Inilah yang dimaksud oleh Alloh SWT, dan harapan kita sebagai warga negara Indonesia, Bangsa Indonesia menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negeri yang baik yang selalu dalam ampunan Alloh).
…
Indonesia, kebangsaanku Bangsa dan tanah airku. Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, Bangsaku, rakyatku, semuanya. Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya Untuk Indonesia Raya
…
Demikianlah, semoga dengan mensyukuri momentum peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-72 ini akan berbuah ketaatan kepada Alloh yang dapat membawa kedamaian pada diri setiap warga, keharmonisan masyarakat dan kerukunan umat beragama serta kesejahteraan bagi kita semua, ketahanan nasional NKRI dan tentunya untuk kejayaan agama dan negara.
Leave a Reply